Selasa, 29 Juni 2010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI bahkan ibu yang buta huruf pun dapat menyusui anaknya dengan baik. Walaupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami Roeli, 2000).
Pemberian ASI yang baik adalah sesuai kebutuhan bayi istilahnya on demand, kalau ASI diberikan pada saat anak sudah menangis sebenarnya itu sudah terlambat karena sudah kelamin. Keberhasilan menyusui harus diawali dengan kepekaan terhadap waktu yang tepat saat pemberian ASI. Kalau diperhatikan sebelum sampai menangis bayi sudah bisa memberikan tanda-tanda kebutuhan akan ASI berupa gerakan-gerakan memainkan mulut dan lidah atau tangan di mulut. Ketepatan waktu saja tidak cukup, tak jarang kegagalan dalam menyusui terjadi. Kegagalan biasanya disebabkan karena tehnik dan posisi yang kurang tepat bukan karena produksi ASI-nya yang sedikit. Kegagalan teknis menyusui bisa terjadi karena bayi yang bersangkutan pernah menggunakan dot (www.tabloidnakita.com).
Kendala terhadap pemberian ASI telah teridentifikasi, hal ini mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi dari pihak perawat kesehatan bayi, praktik-praktik rumah sakit yang merugikan seperti pemberian air dan suplemen bayi tanpa kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada periode pasca kelahiran dini, kurangnya dukungan dari masyarakat luas (Maribeth Hasselquist, 2006).
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, seperti cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, isapan yang mengakibatkan puting terasa nyeri dan masih banyak lagi masalah lain. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidupnya atau disegani seperti suami, keluarga atau kerabat atau kelompok ibu-ibu pendukung ASI dan dokter atau tenaga kesehatan. Untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai tehnik-tehnik menyusui yang benar (Soetjingsih, 1997).
Jumlah bayi di Kabupaten Lampung Timur ada 21.795 bayi, yang di beri ASI Ekslusif 8.185 (37,55%) (Profil Kesehatan Kabupaten Lampung Timur, 2005). Di desa Sidodadi dengan jumlah penduduk wanita 1.891 dan jumlah bayi sebanyak 85 bayi.
Dari data di atas, terdapat jumlah bayi di Kecamatan Sekampung sebanyak 718 bayi dan 1.430 orang ibu yang menyusui. Di Desa Sidodadi terdapat 85 bayi dengan sasaran ibu yang menyusui sebanyak 170 orang. Berdasarkan hasil prasurvei pada periode bulan (Desember 2006 - Februari 2007) di Desa Sidodadi terdapat 58 orang ibu menyusui yang terbagi dalam 4 dusun yaitu Dusun 1 terdapat : 23 orang ibu menyusui, dari 23 orang ibu menyusui yang mengalami masalah seperti puting susu lecet ada 1 orang, payudara bengkak 18 orang, dan 4 orang lainnya tidak mengalami masalah. Dusun II terdapat 13 orang ibu menyusui, dari 13 orang ibu menyusui tersebut yang mengalami masalah seperti puting lecet ada 4 orang, payudara bengkak 1 orang, dan bendungan payudara ada 1 orang dan 7 orang lainya tidak mengalami masalah. Dusun III terdapat 9 orang ibu menyusui, dari 9 orang ibu menyusui tersebut yang mengalami masalah seperti puting lecet, ada 5 orang, bendungan payudara ada 1 orang dan 3 orang lainnya tidak mengalami masalah. Dusun IV terdapat 13 orang ibu menyusui dari 13 orang tersebut yang mengalami masalah seperti puting lecet ada 6 orang, bendungan payudara 1 orang dan 6 orang lainnya tidak mengalami masalah.
Dengan cara menyusui yang benar masalah-masalah seperti payudara bengkak, puting susu lecet, radang payudara, air susu kurang, bayi bingung puting (karena pemakaian dot atau kempeng) tidak ditemukan lagi/diminimalkan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah “Bagaimanakah pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur tahun 2007”.





C. Ruang Lingkup Penelitian
1. Sifat Penelitian : Deskriptif
2. Subyek Penelitian : Ibu Menyusui
3. Obyek Penelitian : Pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui
4. Lokasi Penelitian : Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur
5. Waktu Penelitian : Mei 2007
6. Alasan Penelitian : Dari hasil prasurvey bulan Desember 2006-Januari 2007 terdapat ibu yang mengalami puting susu lecet sebanyak 16 orang, bendungan payudara 3 orang, payudara bengkak 19 orang, di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.




E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat
1. Bagi Ibu Menyusui
Penelitian ini di harapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan ibu tentang cara menyusui.
2. Bagi Tempat Peneliti
Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran untuk lebih meningkatkan cara menyusui di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini di harapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah sebagai penerapan ilmu yang didapat dengan proses pembelajaran secara nyata dalam membuat karya tulis ilmiah.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat melengkapi bacaan di perpustakaan sebagai acuan untuk penelitian sejenis dengan variabel penelitian yang lebih komplek.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002). Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu:

a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tau apa yang telah dipelajari antara lain, menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan, menyatakan dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi dapat diartikan juga sebagai penggunaan atau aplikasi hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis diartikan sebagai kemampuan untuk menyebarkan materi untuk suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis),
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusu suatu formulasi baru dari formula-formula yang ada.


f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penelitian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 1997).

2. Menyusui
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan air susu kepada bayi dan sebagainya untuk diminum dari buah dada (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

3. Pengertian Air Susu Ibu (ASI)
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein lactase dan garam-garam organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai bahan makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997).
Pada bayi normal bayi sudah dapat disusui segera setelah lahir. Lama disusi satu dua menit pada setiap payudara. Dengan menghisapnya bayi terjadi perangsangan pembuatan air susu dan secara tidak langsung rangsangan isap membantu proses pengecilan uterus. Air susu yang pertama keluar disebut colostrum. Walau hanya dihisap beberapa tetes tetapi sudah cukup untuk kebutuhan bayi pada hari-hari pertama kehidupannya. Pada hari ke-3, bayi sudah harus menyusu selama 10 menit pada mamae ibu dengan jarak waktu 3-4 jam (Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 3).
Pemberian ASI merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi pada umur 6 bulan pertama kehidupanya. Jika ada pemberian ASI masa ini bayi dapat kekurangan gizi dan mudah terserang penyakit. Keadaan ini akan berdampak pada anak dikemudian hari bahkan dapat berakibat pada kematian. Masalah pemberian ASI pada bayi muda cukup bulan biasanya berkaitan dengan jumlah asupan ASI yang kurang. Masalah pemberian ASI pada bayi kurang bulan biasanya berkaitan dengan jumlah asupan ASI yang kurang. Masalah pemberian ASI pada bayi kurang bulan biasanya terkait dengan reflek hisap yang belum sempurna (MTBS, Modul 6).

a. Reflek Pembentukan/Produksi dan Pengeluaran ASI
Pada ibu yang menyusui dikenal dengan 2 reflek yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu :
Reflek Prolaktin :
“ Prolaktin : dirangsang hormon prolaktin kelenjar hipofise bagian depan di dasar otak. Proses pengisapan merangsang ujung syaraf disekitar payudara, saraf ini membawa pesan kebagian depan kelenjar hipophisa untuk memproduksi prolaktin, prolaktin dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara untuk merangsang pembuatan ASI”.
Reflek “Let Down”
“Isapan bayi merangsang saraf sekitar payudara, saraf membawa pesan ke bagian belakang kelenjar hipofise, keluar hormon oksitosin dialirkan darah, kontraksi sel-sel mioepitel sekitar alveoli dan duktus lactiferous mendorong ASI keluar dari alveoli melalui duktus lactiferous melalui sinus lactiferus”.

b. Mekanisme Menyusui
Bayi yang sehat memiliki 2 reflek intrinsic keberhasilan menyusui seperti :
 Reflek mencari (Rooting reflek)
Puting atau tangan diletakkan pada pipi disekitar mulut, maka akan menimbulkan reflek mencari pada bayi.
 Reflek menghisap (Sucking reflek)
Rahang menekan kalang payudara dengan bantuan bibir secara berirama, gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus lactiferous, sehingga air susu akan mengalir.
 Reflek menelan (swallowing reflek)
Pada saat air susu keluar dari puting susu akan disusul dengan gerakan menghisap sehingga air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan dan masuk ke lambung (Soetjiningsih, 1997)




4. Langkah-langkah Menyusui yang Benar
a. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting dan di sekitar payudara. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.
b. Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara.
 Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah (agar kaki ibu tidak menggantung) dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
 Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah, dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan).
 Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu, dan yang satu di depan.
 Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi).
 Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
 Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
c. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah, jangan menekan puting susu atau kalang payudaranya saja.
d. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflex) dengan cara:
 Menyentuh pipi dengan puting susu atau,
 Menyentuh sisi mulut bayi.







Gambar 1. Cara meletakkan bayi dan memegang payudara.

e. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta payudara dimasukkan ke mulut bayi :
 Usahakan sebagian besar payudara dapat masuk ke mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah payudara. Posisi yang salah, yaitu apabila bayi hanya mengisap pada puting susu saja, akan mengakibatkan masukan ASI yang tidak adekuat dan puting susu lecet.
 Setelah bayi mulai menghisap payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi.




Cara Pengamatan Teknik Menyusui Yang Benar
Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Untuk mengetahui bayi telah menyusu dengan teknik yang benar, dapat dilihat:
 bayi tampak tenang,
 badan bayi menempel pada perut ibu,
 mulut bayi terbuka lebar,
 dagu menempel pada payudara ibu,
 sebagian besar payudara masuk ke dalam mulut bayi,
 bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan,
 puting susu ibu tidak terasa nyeri,
 telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus,
 kepala tidak menengadah. (ASI, Soetjiningsih, 1997)
f. Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas isapan bayi:
 jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau,
 dagu bayi ditekan ke bawah.
g. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan di sekitar payudara; biarkan kering dengan sendirinya.
h. Menyendawakan bayi.
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh - Jawa) setelah menyusui. Cara menyendawakan bayi adalah:
 Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggung ditepuk perlahan-lahan,
 Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan. (Mary Beth Hasselauist, 2006)






Gambar 2. Menyendawakan bayi


5. Tanda Bayi Cukup ASI
Bayi kencing setidaknya 6 x dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda, bayi sering BAB berwarna kekuningan “berbiji”, bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan cukup tidur, menyusu 10-12 x dalam 24 jadi, payudara ibu terasa lembut setiap kali selesai menyusui. Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI setiap kali bayi mulai menyusu. Bayi bertambah berat badannya.
Tanda-tanda penyusuan yang tidak efektif
a. Bibir bayi mengkerut meskipun ia menghisap dengan sedotan
b. Bibirnya kelihatan tenggelam, karena jaringan susu tidak cukup mengisi mulutnya.
c. Terdengar bunyi ceklekan selama menyusui
d. Anda tidak mendengarnya menelan
e. Ia tergelincir dari payudara dengan penuh ketakutan
f. Putting susu merasa sakit setelah menit pertama.
(Mary Beth Hasselauist, 2006)
g. Bayi mengisap dengan isapan yang cepat dan dangkal
h. Dapat terlihat lakukan pada pipi
i. Bayi tampak belum kenyang dan tidak tenang, ia akan menangis dan mencoba untuk mengisap.
(Emelia-Hamzah, 2001)

6. Masalah-masalah yang Timbul dalam Masa Laktasi
a. Puting datar atau terbenam
Mengatasinya dapat dilakukan dengan jalan menarik-narik puting, sejak hamil harus menyusui agar sering tertarik.




b. Puting lecet (sore or cracked nipples)
Puting mengalami lecet, retak atau terbentuk celah. Hal ini dapat hilang dengan sendirinya jika ibu merawat payudara secara baik dan teratur. Caranya :
 Olesi puting susu dengan ASI setiap kali akan dan sudah menyusui, hal ini mempercepat sembuhnya lecet dan rasa perih
 Jangan menggunakan BH yang terlalu ketat
 Jangan membersihkan puting dan aerola dengan sabun, alcohol dan obat0obatan yang merangsang putting susu.
 Posisi menyusui yang bervariasi, jika dengan posisi yang sama dapat membuat trauma yang terus-menerus di tempat yang sama sehingga memudahkan terjadinya lecet.

Cara mengatasi puting lecet :
 Jika rasa nyeri dan lecet tidak terlalu berat, ibu dapat menyusui pada daerah yang tidak nyeri. Untuk mengurangi rasa sakit, oles puting susu dengan es beberapa saat. Proses menyusui dengan tenang dan bernafas dalam-dalam sampai ASI mengalir keluar dan rasa perih berkurang
 Jika rasa nyeri berlangsung hebat atau luka semakin berat, putting yang sakit diistirahatkan selama 24 jam. ASI tetap dikeluarkan dengan tangan (diperah) dan diberikan kepada bayi.
c. Payudara bengkak (Breast Engorgement)
Terjadi karena hambatan aliran vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Untuk mengatasinya :
 Kompres payudara dengan handuk hangat, masase ke arah putting, hingga payudara terasa lemas dan ASI dapat keluar melalui puting, hingga payudara terasa lemas dan ASI dapat keluar melalui puting.
 Susukan bayi tanpa dijadwal sampai payudara terasa kosong
 Urut payudara mulai dari tengah lalu kedua telapak tangan ke samping, ke bawah dengan sedikit ke atas dan lepaskan dengan tiba-tiba.
 Keluarkan ASI sedikit dengan tangan agar payudara menjadi lunak dan putting susu menonjol keluar
 Susukan bayi lebih sering

d. Saluran susu tersumbat (Obstructed duct)
Timbul karena tekanan jari pada waktu menyusui, pemakaian BH yang terlalu ketat, adanya komplikasi payudara bengkak yang tidak segera diatasi. Jika ibu merasa nyeri, payudara dapat dikompres dengan air hangat sebelum menyusui dan setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak.


e. Mastitis dan Abses Payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Bagian yang terkena menjadi merah, bengkak, nyeri dan panas. Suhu meningkat kadang-kadang disertai menggigil. Terjadi pada masa 1-3 minggu setelah melahirkan. Cara mengatasinya berkonsltasi pada dokter untuk mendapatkan terapi antibiotic dan obat penghilang rasa sakit. Ibu harus banyak beristirahat dan tetap menyusui bayinya.
Mastitis yang tidak diobati akan berlanjut ke abses, ibu tampak kesakitan, payudara merah mengkilap, dan benjolan mengandung cairan berupa nanah. Sementara berhenti menyusu pada bagian yang terkena, susukan bayi pada payudara yang sehat. Dokter melakukan tindakan pengeluaran nanah dan memberi antibiotic serta obat penahan rasa sakit (Puspa Swara, 2003).

7. Beberapa masalah yang sering terjadi ketika bayi menyusui
a. Bayi Bingung Puting
Keadaan bayi yang mengalami nipple confusion karena diberi susu formula dalam botol bergantian dengan menyusu pada ibu. Bila bayi menyusu pada ibu, bayi harus bekerja keras untuk menarik dan mengurut puting dan aerola sehingga keluar ASI. Tidak demikian dengan dot, dot mempunyai lubang sehingga tanpa berusaha keras dapat menelan susu tanpa diisap. Tanda bingung putting antara lain :
 Bayi menghisap puting seperti menghisap dot
 Waktu menyusu terputus-putus/sebentar-sebentar menyusu
 Bayi menolak menyusu pada ibu.
Cara mencegah puting susu antar lain usahakan bayi untuk menyusu pada ibu, proses menyusui lebih sering, lebih lama tanpa terjadwal, lakukan penyusuan dengan lebih sabar, teliti dan telaten.

b. Bayi enggan Menyusu
Bayi perlu mendapat perhatian khusus jika ia enggan menyusu terutama jika muntah, diare, mengantuk, kuning, dan kejang-kejang.
Penyebab bayi enggan menyusu :
 Hidung tertutup lendir/ingus karena pilek sehingga sulit untuk mengisap / bernafas.
 Terlambat mulai menyusui, bayi ditinggal lama karena ibu sakit / bekerja
 Bayi di samping diberi ASI diberi dot juga
 Bayi dengan prelateal feeding atau mendapat makanan tambahan terlalu dini.
 ASI kurang lancar/terlalu deras
 Bayi dengan frenulum linguage (tali lidah) pendek yang disebut dengan short tongue tie.

c. Bayi sering menangis
Mungkin karena lapar, takut, kesepian, bosan, popok basah / kotor. 84% dapat ditanggulangi dengan cara menyusui bayi dengan tehnik yang benar sampai tangis bayi dapat dihentikan, kecuali jika bayi sakit perlu mendapat penanganan tersendiri.

d. Bayi Kembar
Bayi dapat disusukan bersama atau bergantian, jika bersamaan ibu dapat mengambil posisi “memegang bola”, kombinasi atau biasa. Posisi memegang bola : memegang kepala dengan satu tangan, badan bayi berada di lengan ibu dengan kedua kaki ke arah punggung ibu, dipakai pad saat menyusui secara bersamaan.
Posisi kombinasi : satu bayi disusukan secara biasa, sedangkan bayi yang lain dengan posisi memegang bola. Posisi biasa : dengan cara memangku bayi dengan kepala/tengkuk berada pada siku ibu bagian dalam.





e. Bayi sumbing
Bayi dengan sumbing, langit-langit lembek (palatum mole) dapat menyusu tanpa kesulitan dengan cara : dengan memberikan posisi tegak atau berdiri agar ASI tidak masuk ke dalam hidung bayi. Apabila sumbing itu hanya pada bibir atas saja, bayi dapat menyusu sambil ibu menutup sumbing tersebut dengan jari agar bayi dapat menghisap dengan sempurna. Hal paling sulit terjadi jika sumbing ganda atau, yaitu pada langit-langit keras (palatum durum) dan bibir sehingga bayi sulit menghisap/menangkap puting susu dengan sempurna.
Jika posisi seperti tersebut ASI dapat dikeluarkan dengan manual/pompa dan diberikan dengan sendok, pipet/botol dot, yang mempunyai bentuk seperti putting susu sapi atau kambing, jika sulit mendapatkannya, gunakan dua dot yang disambung sehingga ukuranya lebih panjang.

f. Ikterus pada neonatus
Ikterus patologi terjadi pada 24 jam pertama setelah bayi lahir. Hal ini terjadi karena infeksi atau terkena intoksikasi obat. Pada ikterus dini tindakan yang dikerjakan terapi sinar (phototheraphy). Dengan cara ini, energi sinar akan mengubah senyawa bilirubin menjadi senyawa yang mudah larut dalam air untuk dieksresikan (dikeluarkan).
8. Keunggulan ASI terhadap Susu Lainnya.
Keunggulan ASI terhadap susu lainnya antar lain :
 Murah, sehat, dan mudah dm memberikannya
 Mengandung zat yang dapat meninggikan daya tahan anak terhadap penyakit.
 Mengandung cukup banyak makanan yang diperlukan oleh bayi
 Menyusui berarti menjalin kasih sayang ibu terhadap anak.
 Menyusui mempercepat ibu menjadi langsung kembali sesudah melahirkan
(file : ii c :/ docume~1/micros~1/local~1/rem/oxe 1300e%.html).

B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005). Agar konsep dapat diamati, dan diukur maka konsep harus dijabarkan dalam variabel atas dasar tersebut maka sebagai variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu nifas tentang cara ibu menyusui.





Jika digambarkan dalam kerangka konsep adalah sebagai berikut :









Gambar 3. Kerangka Konsep Penelitian


C. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional digunakan untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati atau diteliti. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran dan pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen atau alat ukur (Notoatmodjo, 2005).















Tabel 1. Definisi Operasional


No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil ukur Skala
1 Pengetahuan Hasil tahu dan ini terjadi melalui panca indera manusia
(Notoatmodjo, 2003) Angket Kuesioner - Sangat baik
(skor 29-35)
- Baik
(skor 22-28)
- Cukup
(skor 15-21)
- Kurang
(skor 8-14)
- Sangat kurang
(skor 0-7)
Ordinal
2 Ibu Menyusui Ibu yang memiliki bayi usia 0-2 tahun dan masih menyusui


Kisi–kisi Pertanyaan Kuisioner
No. Sub Variabel Jumlah Soal Nomor Soal
1 Pengertian ASI 7 1 – 7
2 Cara menyusui 7 8 – 14
3 Tanda bayi cukup ASI 7 15 – 21
4 Keunggulan ASI 5 22 – 26
5 Masalah-masalah yang terjadi jika cara menyusui salah 9 27 – 35
JUMLAH 35

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian deskriptif, adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005).


B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo 2005). Berdasarkan pendapat di atas maka yang akan menjadi populasi dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang memiliki bayi usia 0-2 tahun yang berada di Desa Sidodadi Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur.

2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti (Arikunto, 2002), selanjutnya menurut (Notoatmodjo 2005) sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah secara accidental, yaitu diambil dari responden atau kasus yang kebetulan ada.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, instrumen ini dapat berupa pertanyaan (question), formulir observasi dan formulir-formulir lain yang berkaitan dengan penataan data dan lain-lain (Notoatmodjo, 2005).
Alat ukur yang digunakan adalah kuisioner. Kuisioner atau angket merupakan suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum/banyak orang (Notoatmodjo, 2002 ; 12).

D. Tehnik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan wawancara, tehnik ini dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan informasi jawaban dan sebagainya.

E. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul melalui angket atau kuisioner maka dapat dilakukan pengolahan data melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Seleksi Data (Editing)
Dimana penulis akan melakukan penelitian terhadap data yang diperoleh dan diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam penelitian.
2. Pemberian Kode (Coding)
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data.
3. Pengelompokan Data (Tabulating)
Pada tahap ini jawaban-jawaban responden yang sama dikelompokan dengan teliti dan teratur lalu dihitung dan dijumlahkan kemudian dituliskan dalam bentuk tabel-tabel.

F. Analisa Data
Untuk mengetahui pengetahuan responden digunakan skor maksimal setiap pertanyaan yang dijawab benar diberi skor 1 dan pertanyaan yang dijawab salah atau tidak dijawab diberi skor 0, sehingga dari 35 pertanyaan skor maksimal 35.
 Sangat Baik : jumlah skor 29-35
 Baik : jumlah skor 22-28
 Cukup : jumlah skor 15-21
 Kurang : jumlah skor 8-14
 Sangat Kurang : jumlah skor 0-7
(Arikunto, 2005).
Untuk menghitung distribusi frekuensi kategori pengetahuan digunakan rumus sebagai berikut :
Keterangan:
P = Prosentase
F = Frekuensi
N = Jumlah keseluruhan responden
100% = Konstanta
(Eko Budiarto, 2002)

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian
a. Keadaan Geografi
Desa Sidodadi berada di wilayah Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur dengan luas wilayah 368 Ha.
Adapun batas-batas desa Sidodadi adalah sebagai berikut:
- Sebelah utara berbatasan dengan Sumber Gede
- Sebelah barat berbatasan dengan Bale Kencono
- Sebelah selatan berbatasan dengan Sidomulyo
- Sebelah timur berbatasan dengan Giri klopomulyo

Desa Sidodadi ini terbagi dalam 4 dusun yaitu dusun I dengan nama Kebumen, Dusun II Kuto Arjo, dusun III Magelangan dan Dusun IV bernama Gombong.

b. Demografi
Jumlah penduduk Sidodadi pada tahun 2006 adalah 3.247 jiwa dengan jumlah laki-laki: 1685 jiwa dan wanita: 1562 jiwa, jumlah KK di desa Sidodadi adalah sebanyak 858 KK.


1) Saran Pendidikan Desa Sidodadi
Sarana pendidikan yang ada di Desa Sidodadi terdiri dari SD/MI sebanyak 3 buah, SLTP/MTs sebanyak 1 buah.
2) Keadaan Penduduk berdasarkan Agama yang dianut
Sebagian besar penduduk desa Sidodadi beragama islam, dengan jumlah ± 3.203 orang, Kristen 16 orang, dan Katholik 12 orang.
3) Sarana Kesehatan Desa Sidodadi
Sarana kesehatan yang ada di desa Sidodadi hanya terdapat 4 Posyandu, 1 Polindes.

2. Hasil Penelitian
Setelah dilakukan penelitian di desa Sidodadi kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur pada tanggal 16-23 Mei 2007, maka didapatkan hasil penelitian seperti terlihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu menyusui tentang Cara Menyusui di Desa Sidodadi Kec. Sekampung Kab. Lampung Timur tahun 2007.

No. Pengetahuan Jumlah Responden Persentase
1. Sangat Baik 0 0%
2 Baik 7 20%
3 Cukup 26 74,29%
4 Kurang 2 5,71%
5 Sangat kurang 0 0%
JUMLAH 35 100%

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat dari 35 orang responden yang berpengetahuan baik terdapat 7 orang (20%), cukup 26 orang (74,29%), kurang 2 orang (5,71%).
B. Pembahasan
Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003).
Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI bahkan ibu yang buta huruf pun dapat menyusui anaknya dengan baik (Roesli, Utami, 2000). Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, seperti cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, isapan yang mengakibatkan puting terasa nyeri dan masih banyak lagi masalah lain.
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, seperti cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, isapan yang mengakibatkan puting terasa nyeri dan masih banyak lagi masalah lain. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidupnya atau disegani seperti suami, keluarga atau kerabat atau kelompok ibu-ibu pendukung ASI dan dokter atau tenaga kesehatan. Untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai tehnik-tehnik menyusui yang benar (Soetjingsih, 1997)


Dari uraian diatas jelaslah bahwa pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui sangatlah penting. Hasil penelitian di desa Sidodadi kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur tahun 2007 pada bulan Mei menunjukan bahwa dari 35 orang responden yang berpengetahuan baik 7 orang (20%), cukup 26 orang (74,29%), kurang 2 orang (5,71%).
Dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat bahwa pengetahuan ibu menyusui di desa Sidodadi kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur sebagian besar adalah berpengetahuan cukup. Walaupun masih terdapat ibu menyusui yang berpengetahuan kurang hal itu disebabkan karena masih ada ibu-ibu yang belum mengetahui tentang keunggulan ASI, cara menyusui, dan masalah-masalah yang terjadi jika cara menyusuinya tidak benar. Prosentase responden yang menjawab dengan benar, paling sedikit adalah nomor 26 yaitu 40% tentang keunggulan ASI, pertanyaan nomor. 9 yaitu 42,86% tentang posisi perut bayi pada saat menyusui, pertanyaan nomor 10 yaitu 45,71% tentang cara memegang payudara saat menyusui, pertanyaan nomor 12 yaitu 45,71% tentang alasan menyendawakan bayi, pertanyaan nomor 13 yaitu 42,86 tentang gambar menyendawakan bayi, pertanyaan nomor 14 yaitu 45,71% tentang perlekatan yang benar saat menyusui, pertanyaan nomor 25 yaitu 48,57% tentang berat badan bayi yang cukup ASI, dan pertanyaan nomor 31 yaitu 45,71% tentang masalah-masalah yang terjadi bila cara menyusuinya tidak benar.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu menyusui di desa Sidodadi kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur tahun 2007, bahwa dari 35 orang responden yang termasuk dalam kategori yang berpengetahuan baik 7 orang (20%), cukup 26 orang (74,29%), kurang 2 orang (5,71%).

B. Saran
1. Bagi Ibu Menyusui
Diharapkan kepada ibu-ibu menyusui untuk menambah pengetahuannya tentang cara menyusui agar tidak terjadi masalah-masalah dalam menyusui, sehingga dapat memberikan ASI sepenuhnya kepada bayi tanpa mengalami suatu masalah.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan kepada bidan desa dan tenaga kesehatan lain dapat bekerjasama dengan kader dan dukun untuk melakukan penyuluhan atau bimbingan tentang keunggulan ASI, cara menyusui, masalah-masalah yang terjadi pada ibu-ibu yang memiliki bayi pada masa laktasi.


3. Bagi Peneliti lainnya
Sebagai bahan masukan dan mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan atau dibahas dalam penelitian ini.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu menyusui di desa Sidodadi kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur tahun 2007, bahwa dari 35 orang responden yang termasuk dalam kategori yang berpengetahuan baik 7 orang (20%), cukup 26 orang (74,29%), kurang 2 orang (5,71%).

B. Saran
1. Bagi Ibu Menyusui
Diharapkan kepada ibu-ibu menyusui untuk menambah pengetahuannya tentang cara menyusui agar tidak terjadi masalah-masalah dalam menyusui, sehingga dapat memberikan ASI sepenuhnya kepada bayi tanpa mengalami suatu masalah.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan kepada bidan desa dan tenaga kesehatan lain dapat bekerjasama dengan kader dan dukun untuk melakukan penyuluhan atau bimbingan tentang keunggulan ASI, cara menyusui, masalah-masalah yang terjadi pada ibu-ibu yang memiliki bayi pada masa laktasi.


3. Bagi Peneliti lainnya
Sebagai bahan masukan dan mengkaji hal-hal yang belum dapat dimunculkan atau dibahas dalam penelitian ini.

Kamis, 06 Mei 2010

makalah Askep Solusio plasenta

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Solusio plasenta atau disebut juga abruptio placenta atau ablasio placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu ke janin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat. Hebatnya perdarahan tergantung pada luasnya area plasenta yang terlepas.
Frekuensi solusio plasenta adalah sekitar 1 dari 200 pelahiran. Intensitas solusio plasenta sering bervariasi tergantung pada seberapa cepat wanita mendapat pertolongan. Angka kematioan perinatal sebesar 25 %. Ketika angka lahir mati akibat kausa lain telah berkurang secara bermakna, angka lahir mati akibat solusio plasenta masih tetap menonjol.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada atau tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak. Pemandangan yang menipu inilah sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan yang demikian seringkali perkiraan jumlah darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskuler menahun, dan 15,5% disertai pula oleh preeklamsia. Faktor lain yang diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.


1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
• Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan terhadap klien dengan solusio plasenta
1.2.2 Tujuan Khusus
• Untuk mengetahui dan memahami pengertian solusio plasenta.
• Untuk mengetahui dan memahami macam solusio plasenta.
• Untuk mengetahui dan memahami patologi dan etiologi dari solusio plasenta.
• Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan keperawatan dari solusio plasenta.
• Untuk mengetahui dan memahami tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien solusio plasenta

















BAB II
LANDASAN TEORI

2. 1 Pengertian
Solulusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Beberapa jenis perdarahan akibat solusio plasenta biasanya merembes diantara selaput ketuban dan uterus dan kemudian lolos keluar menyebabkan perdarahan eksternal. Yang lebih jarang, darah tidak keluar dari tubuh tetapi tertahan diantara plasenta yang terlepas dn uterus serta menyebabkan perdarahan yang tersembunyi. Solusio plasenta dapat total atau parsial.


Gambar Normal dan Solutio Plasenta

2. 2 Klasifikasi dan Macam Solutio Plasenta
a. Solusio plasenta ringan. Perdarahannya kurang dari 500 cc dengan lepasnya plasenta kurang dari seperlima bagian. Perut ibu masih lemas sehingga bagian janin mudah di raba. Tanda gawat janin belum tampak dan terdapat perdarahan hitam per vagina.
b. Solusio plasenta sedang. Lepasnya plasenta antara seperempat sampai dua pertiga bagian dengan perdarahan sekitar 1000 cc. perut ibu mulai tegang dan bagian janin sulit di raba. Janin sudah mengalami gawat janin berat sampai IUFD. Pemeriksaan dalam menunjukkan ketuban tegang. Tanda persalinan telah ada dan dapat berlangsung cepat sekitar 2 jam.
c. Solusio plasenta berat. Lepasnya plasenta sudah melebihi dari dua pertiga bagian. Perut nyeri dan tegang dan bagian janin sulit diraba, perut seperti papan. Janin sudah mengalami gawat janin berat sampai IUFD. Pemeriksaan dalam ditemukan ketuban tampak tegang. Darah dapat masuk otot rahim, uterus Couvelaire yang menyebabkan Antonia uteri serta perdarahan pascapartus. Terdapat gangguan pembekuan darah fibribnogen kurang dari 100-150 mg%. pada saat ini gangguan ginjal mulai Nampak.

Cunningham dan Gasong masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan solusio plasenta menurut tingkat gejala klinisnya, yaitu:
1. Ringan : perdarahan kurang 100-200 cc, uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup, pelepasan plasenta kurang 1/6 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma lebih 150 mg%.
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3 bagian atau keseluruhan.

2. 3 Penyebab Solusio Plasenta
• Trauma langsung Abdomen
• Hipertensi ibu hamil
• Umbilicus pendek atau lilitan tali pusat
• Janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas
• Tekanan pada vena kafa inferior
• Preeklamsia/eklamsia
• Tindakan Versi luar
• Tindakan memecah ketuban (hamil biasa, pada hidramnion, setelah anak pertama hamil ganda)

2. 4 Etiologi
Kausa primer solusio plasenta belum diketahui tetapi terdapat beberapa kondisi terkait, sebagai berikut:

Ris Relatif
Faktor Risiko (%)

Bertambahnya usia dan paritas NA
Preeklamsia 2.1-4.0
Hipertensi kronik 1.8-3.0
Ketuban pecah dini 2.4-3.0
Merokok 1.4-1.9
Trombofilia NA
Pemakaian kokain NA
Riwayat solusio 10-25
Leiomioma uterus NA
NA = tidak tersedia
Dikutip dari Cunningham dan Hollier (1997); data risiko dari Ananth dkk. (1999a, 1999b) dan Kramer dkk. (1997).

Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang menjadi predisposisi :
1. Faktor kardiorenovaskuler
Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia. Pada penelitian di Parkland, ditemukan bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus solusio plasenta berat, dan separuh dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang disebabkan oleh kehamilan. Dapat terlihat solusio plasenta cenderung berhubungan dengan adanya hipertensi pada ibu
2. Faktor trauma
Trauma yang dapat terjadi antara lain:
• Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.
• Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan.
• Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
3. Faktor paritas ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta yang diteliti dijumpai 45 kasus terjadi pada wanita multipara dan 18 pada primipara. Pengalaman di RSUPNCM menunjukkan peningkatan kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu dengan paritas tinggi. Hal ini dapat diterangkan karena makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium.
4. Faktor usia ibu
Dalam penelitian Prawirohardjo di RSUPNCM dilaporkan bahwa terjadinya peningkatan kejadian solusio plasenta sejalan dengan meningkatnya umur ibu. Hal ini dapat diterangkan karena makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun.
5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma) yang hamil dapat menyebabkan solusio plasenta apabila plasenta berimplantasi di atas bagian yang mengandung leiomioma.
6. Faktor pengunaan kokain
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan pelepasan katekolamin, yang mana bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan dapat berakibat terlepasnyaplasenta . Namun, hipotesis ini belum terbukti secara definitif. Angka kejadian solusio plasenta pada ibu-ibu penggunan kokain dilaporkan berkisar antara 13-35%.


7. Faktor kebiasaan merokok
Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta sampai dengan 25% pada ibu yang merokok ≤ 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat diterangkan pada ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya. Deering dalam penelitiannya melaporkan bahwa resiko terjadinya solusio plasenta meningkat 40% untuk setiap tahun ibu merokok sampai terjadinya kehamilan.
8. Riwayat solusio plasenta sebelumnya
Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil lainnya yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya.
9. Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi/defisiensi gizi, tekanan uterus pada vena cava inferior dikarenakan pembesaran ukuran uterus oleh adanya kehamilan, dan lain-lain.

2. 5 Patologi
Solusio plasenta di awali perdarahan kedalam desidua basalis. Desidua kemudian terpisah, meninggalkan satu lapisan tipis yang melekat ke endometrium. Akibatnya, proses ini pada tahapnya yang paling awal memperlihatkan pembentukan hematom desidua yang menyebabkan pemisahan, penekanan, dan akhirnya destruksi plasenta yang ada di dekatnya. Pada tahap awal mungkin belum ada gejala klinis.
Pada beberapa kasus, arteri spiralis desidua mengalami rupture sehingga menyebabkan hematom retroplasenta, yang sewaktu membesar semakin banyak pembuluh darah dan plasenta yang terlepas. Bagian plasenta yang memisah dengan cepat meluas dan mencapai tepi plasenta. Karena masih teregang oleh hasil konsepsi, uterus tidak dapat beronntraksi untuk menjepit pembuluh darah yang robek yang memperdarahi tempat implantasi plasenta. Darah yang keluar dapat memisahkan selaput ketuban dari dinding uterus dan akhirnya muncul sebagai perdarahan eksternal, atau mungkin tetap tertahan dalam uterus.
2. 6 Gambaran Klinis
Solutio plasenta ringan
Terjadi rupture sinus masrginalis. Bila terjadi perdarahan pervaginam warna merah kehitaman, perut terasa agak sakit atau terus menerus agak tegang. Tetapi bagian-bagian janin masih teraba

Solution plasenta sedang
Plasenta telah terlepas seperempat sampai duapertiga luas permukaan. Tanda dan gejala dapat timbul perlahan seperti pada solution plasenta ringan atau mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, nyeri tekan, bagian janin sukar di raba., BJA sukar di raba dengan stetoskop biasa. Sudah dapat terjadi kelainan pembekuan darah atau ginjal.

Solution plasenta berat
Plasenta telah lepas lebih duapertiga luas permukaannya, terjadi tiba-tiba, ibu syok janin meningggal. Uterus tegang seperti papan dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tidak sesuai dengan keadaan syok ibu. Besar kemungkinan telah terjadi gangguan pembekuan darah dan ginjal.



2. 7 Komplikasi
Komplikasi solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi yang dapat terjadi pada ibu :
1. Syok perdarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah diselesaikan, penderita belum bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan perdarahan pada kala III persalinan dan adanya kelainan pada pembekuan darah. Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah perdarahan yang terlihat.
Titik akhir dari hipotensi yang persisten adalah asfiksia, karena itu pengobatan segera ialah pemulihan defisit volume intravaskuler secepat mungkin. Angka kesakitan dan kematian ibu tertinggi terjadi pada solusio plasenta berat. Meskipun kematian dapat terjadi akibat nekrosis hipofifis dan gagal ginjal, tapi mayoritas kematian disebabkan syok perdarahan dan penimbunan cairan yang berlebihan. Tekanan darah tidak merupakan petunjuk banyaknya perdarahan, karena vasospasme akibat perdarahan akan meninggikan tekanan darah. Pemberian terapi cairan bertujuan mengembalikan stabilitas hemodinamik dan mengkoreksi keadaan koagulopathi. Untuk tujuan ini pemberian darah segar adalah pilihan yang ideal, karena pemberian darah segar selain dapat memberikan sel darah merah juga dilengkapi oleh platelet dan faktor pembekuan.
2. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio plasenta, pada dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang baik. Perfusi ginjal akan terganggu karena syok dan pembekuan intravaskuler. Oliguri dan proteinuri akan terjadi akibat nekrosis tubuli atau nekrosis korteks ginjal mendadak. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin yang harus secara rutin dilakukan pada solusio plasenta berat. Pencegahan gagal ginjal meliputi penggantian darah yang hilang secukupnya, pemberantasan infeksi, atasi hipovolemia, secepat mungkin menyelesaikan persalinan dan mengatasi kelainan pembekuan darah.
3. Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah pada solusio plasenta biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. Dari penelitian yang dilakukan oleh Wirjohadiwardojo di RSUPNCM dilaporkan kelainan pembekuan darah terjadi pada 46% dari 134 kasus solusio plasenta yang ditelitinya.
Kadar fibrinogen plasma normal pada wanita hamil cukup bulan ialah 450 mg%, berkisar antara 300-700 mg%. Apabila kadar fibrinogen plasma kurang dari 100 mg% maka akan terjadi gangguan pembekuan darah. Mekanisme gangguan pembekuan darah terjadi melalui dua fase, yaitu:
a. Fase I
Pada pembuluh darah terminal (arteriole, kapiler, venule) terjadi pembekuan darah, disebut disseminated intravasculer clotting. Akibatnya ialah peredaran darah kapiler (mikrosirkulasi) terganggu. Jadi pada fase I, turunnya kadar fibrinogen disebabkan karena pemakaian zat tersebut, maka fase I disebut juga coagulopathi consumptive. Diduga bahwa hematom subkhorionik mengeluarkan tromboplastin yang menyebabkan pembekuan intravaskuler tersebut. Akibat gangguan mikrosirkulasi dapat mengakibatkan syok, kerusakan jaringan pada alat-alat yang penting karena hipoksia dan kerusakan ginjal yang dapat menyebabkan oliguria/anuria.
b. Fase II
Fase ini sebetulnya fase regulasi reparatif, yaitu usaha tubuh untuk membuka kembali peredaran darah kapiler yang tersumbat. Usaha ini dilaksanakan dengan fibrinolisis. Fibrinolisis yang berlebihan malah berakibat lebih menurunkan lagi kadar fibrinogen sehingga terjadi perdarahan patologis. Kecurigaan akan adanya kelainan pembekuan darah harus dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium, namun di klinik pengamatan pembekuan darah merupakan cara pemeriksaan yang terbaik karena pemeriksaan laboratorium lainnya memerlukan waktu terlalu lama, sehingga hasilnya tidak mencerminkan keadaan penderita saat itu.
4. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot rahim dan di bawah perimetrium kadang-kadang juga dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire. Tapi apakah uterus ini harus diangkat atau tidak, tergantung pada kesanggupannya dalam membantu menghentikan perdarahan. Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:
1. Fetal distress
2. Gangguan pertumbuhan/perkembangan
3. Hipoksia dan anemia
4. Kematian

2. 8 Diagnosis
Keluhan dan gejala pada solusio plasenta dapat bervariasi cukup luas. Sebagai contoh, perdarahan eksternal dapat banyak sekali meskipun pelepasan plasenta belum begitu luas sehingga menimbulkan efek langsung pada janin, atau dapat juga terjadi perdarahan eksternal tidak ada, tetapi plasenta sudah terlepas seluruhnya dan janin meninggal sebagai akibat langsung dari keadaan ini.
Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi mengandung ancaman bahaya yang jauh lebih besar bagi ibu, hal ini bukan saja terjadi akibat kemungkinan koagulopati yang lebih tinggi, namun juga akibat intensitas perdarahan yang tidak diketahui sehingga pemberian transfusi sering tidak memadai atau terlambat.
Menurut penelitian retrospektif yang dilakukan Hurd dan kawan-kawan pada 59 kasus solusio plasenta dilaporkan gejala dan tanda pada solusio plasenta.

Tabel Tanda dan Gejala Pada Solusio Plasenta
No. Tanda atau Gejala Frekuensi (%)
1. Perdarahan pervaginam 78
2. Nyeri tekan uterus atau nyeri pinggang 66
3. Gawat janin 60
4. Persalinan prematur idiopatik 22
5. Kontraksi berfrekuensi tinggi 17
6. Uterus hipertonik 17
7. Kematian janin 15

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perdarahan pervaginam merupakan gejala atau tanda dengan frekuensi tertinggi pada kasus-kasus solusio plasenta. Berdasarkan kepada gejala dan tanda yang terdapat pada solusio plasenta klasik umumnya tidak sulit menegakkan diagnosis, tapi tidak demikian halnya pada bentuk solusio plasenta sedang dan ringan. Solusio plasenta klasik mempunyai ciri-ciri nyeri yang hebat pada perut yang datangnya cepat disertai uterus yang tegang terus menerus seperti papan, penderita menjadi anemia dan syok, denyut jantung janin tidak terdengar dan pada pemeriksaan palpasi perut ditemui kesulitan dalam meraba bagian-bagian janin.

Prosedur pemeriksaan untuk dapat menegakkan diagnosis solusio plasenta antara lain :
1. Anamnesis.
• Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut, kadang-kadang pasien dapat menunjukkan tempat yang dirasa paling sakit.
• Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan sekonyong-konyong (non-recurrent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah yang berwarna kehitaman.
• Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak bergerak lagi).
• Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, mata berkunang-kunang. Ibu terlihat anemis yang tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar pervaginam.
• Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.
2. Inspeksi.
• Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
• Pucat, sianosis dan berkeringat dingin.
• Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu).
3. Palpasi
• Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.
• Uterus tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his maupun di luar his.
• Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.
• Bagian-bagian janin sulit dikenali, karena perut (uterus) tegang.


4. Auskultasi
Sulit dilakukan karena uterus tegang, bila denyut jantung terdengar biasanya di atas 140, kemudian turun di bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari satu per tiga bagian.
5. Pemeriksaan Dalam
• Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup.
• Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his maupun di luar his.
• Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan, disebut prolapsus placenta, ini sering meragukan dengan plasenta previa.
6. Pemeriksaan Umum
Tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien jatuh dalam keadaan syok. Nadi cepat, kecil dan filiformis.
7. Pemeriksaan Laboratorium
• Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit.
• Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan cross-match test. Karena pada solusio plasenta sering terjadi kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot Observation test) tiap l jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex), dan tes kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 15O mg%).
8. Pemeriksaan Plasenta
Plasenta dapat diperiksa setelah dilahirkan. Biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di belakang plasenta yang disebut hematoma retroplacenter.
9. Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain:
• Terlihat daerah terlepasnya plasenta-Janin dan kandung kemih ibu.
• Darah.
• Tepian plasenta.

Gambar Solutio Plasenta Berdasarkan Hasil USG

Penanganan kasus-kasus solusio plasenta didasarkan kepada berat atau ringannya gejala klinis, yaitu:
a. Solusio plasenta ringan
Ekspektatif, bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, perut tidak sakit, uterus tidak tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat, kemudian tunggu persalinan spontan.
Bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin jelas, pada pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah luas), maka kehamilan harus segera diakhiri. Bila janin hidup, lakukan seksio sesaria, bila janin mati lakukan amniotomi disusul infus oksitosin untuk mempercepat persalinan.
b. Solusio plasenta sedang dan berat
Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi transfusi darah, amniotomi, infus oksitosin dan jika perlu seksio sesaria.
Apabila diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya 1000 ml. Maka transfusi darah harus segera diberikan. Amniotomi akan merangsang persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin. Keluarnya cairan amnion juga dapat mengurangi perdarahan dari tempat implantasi dan mengurangi masuknya tromboplastin ke dalam sirkulasi ibu yang mungkin akan mengaktifkan faktor-faktor pembekuan dari hematom subkhorionik dan terjadinya pembekuan intravaskuler dimana-mana. Persalinan juga dapat dipercepat dengan memberikan infus oksitosin yang bertujuan untuk memperbaiki kontraksi uterus yang mungkin saja telah mengalami gangguan.
Gagal ginjal sering merupakan komplikasi solusio plasenta. Biasanya yang terjadi adalah nekrosis tubuli ginjal mendadak yang umumnya masih dapat tertolong dengan penanganan yang baik. Tetapi bila telah terjadi nekrosis korteks ginjal, prognosisnya buruk sekali. Pada tahap oliguria, keadaan umum penderita umumnya masih baik. Oleh karena itu oliguria hanya dapat diketahui dengan pengukuran pengeluaran urin yang teliti yang harus secara rutin dilakukan pada penderita solusio plasenta sedang dan berat, apalagi yang disertai hipertensi menahun dan preeklamsia. Pencegahan gagal ginjal meliputi penggantian darah yang hilang, pemberantasan infeksi yang mungkin terjadi, mengatasi hipovolemia, menyelesaikan persalinan secepat mungkin dan mengatasi kelainan pembekuan darah.
Kemungkinan kelainan pembekuan darah harus selalu diawasi dengan pengamatan pembekuan darah. Pengobatan dengan fibrinogen tidak bebas dari bahaya hepatitis, oleh karena itu pengobatan dengan fibrinogen hanya pada penderita yang sangat memerlukan, dan bukan pengobatan rutin. Dengan melakukan persalinan secepatnya dan transfusi darah dapat mencegah kelainan pembekuan darah.
Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak berlangsungnya solusio plasenta. Tetapi jika itu tidak memungkinkan, walaupun sudah dilakukan amniotomi dan infus oksitosin, maka satu-satunya cara melakukan persalinan adalah seksio sesaria.
Apoplexi uteroplacenta (uterus couvelaire) tidak merupakan indikasi histerektomi. Akan tetapi, jika perdarahan tidak dapat dikendalikan setelah dilakukan seksio sesaria maka tindakan histerektomi perlu dilakukan.
2. 9 Prognosis
Prognosis ibu tergantung luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya perdarahan, ada atau tidak hipertensi menahun atau preeklamsia, tersembunyi tidaknya perdarahan, dan selisih waktu terjadinya solusio plasenta sampai selesainya persalinan. Angka kematian ibu pada kasus solusio plasenta berat berkisar antara 0,5-5%. Sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh perdarahan, gagal jantung dan gagal ginjal.
Hampir 100% janin pada kasus solusio plasenta berat mengalami kematian. Tetapi ada literatur yang menyebutkan angka kematian pada kasus berat berkisar antara 50-80%. Pada kasus solusio plasenta ringan sampai sedang, keadaan janin tergantung pada luasnya plasenta yang lepas dari dinding uterus, lamanya solusio plasenta berlangsung dan usia kehamilan. Perdarahan lebih dari 2000 ml biasanya menyebabkan kematian janin. Pada kasus-kasus tertentu tindakan seksio sesaria dapat mengurangi angka kematian janin
2. 10 Penatalaksanaan
1. Konservatif
Menunda pelahiran mungkin bermamfaat pada janin masih imatur serta bila solusio plasenta hanya berderajat ringan. Tidak adanya deselerasi tidak menjamin lingkungan intra uterine aman. Harus segera dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki hipovolemia, anemia dan hipoksia ibu sehingga fungsi plasenta yang masih berimplantasi dapat dipulihkan. Tokolisis harus di anggap kontra indikasi pada solusio plasenta yang nyata secara klinis
2. Aktif
Pelahiran janin secara cepat yang hidup hampir selalu berarti seksio caesaria. Seksio sesaria kadang membahayakan ibu karena ia mengalami hipovolemia berat dan koagulopati konsumtif. Apabila terlepasnya plasenta sedemikian parahnya sehingga menyebabkan janin meninggal lebih dianjurkan persalinan pervaginam kecuali apabila perdarahannya sedemikian deras sehingga tidak dapat di atasi bahkan dengan penggantian darah secara agresif atau terdapat penyulit obstetric yang menghalangi persalinan pervaginam.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3. 1 Pengkajian
Dalam hal pengumpulan data (pengkajian), pengumpulan data dasar terdiri dari informasi subjektif dan objektif mencakup berbagi masalah keperawatan yang diidentifikasi pada daftar diagnose keperawatan pada tahun 1992 yang dikembangkan oleh NANDA. Data subjektif yang dilaporkan oleh klien dan orang terdekat, informasi ini meliputi persepsi individu; yaitu apa yang seseorang inginkan untuk berbagi. Namun, perawat perlu memperhatikan ketidak sesuaian yang dapat menandakan adanya faktor-faktor lain seperti kurang pengetahuan, mitos, kesalahan konsep, atau rasa takut.
Adapun pengkajian yang dapat dilakukan menurut Marilyn E. Doenges yang dimana pengkajian dengan asuhan keperawatan perihal solution plasenta (tergolongi ntrapartum) terdiri dari :
a. Identitas klien secara lengkap.
b. Aktivitas atau istirahat.
Dikaji secara subyektif yang terdiri dari data tidur istirahat 24 jam terakhir, pekerjaan, kebiasaan aktivitas atau hobi. Dan secara obyektif, data terdiri dari pengkajian neuro muscular.
c. Sirkulasi.
Secara subyektif mulai dari riwayat, peningkatan tekanan darah, masalah jantung, keadaan ekstremitas serta kelaian-kelainan yang disamapaikan oleh klien perihal sirkulasi. Dan secara obyektif yang terdiri dari TD berbagai posisi (duduk, berbaring, berdiri, baik kanan maupun kiri), nadi secara palpasi, bunyi jantung, ekstremitas (suhu, warna, pengisian kapiler, tanda hofman, varises), warna/sianosis diberbagai region tubuh.
d. Integritas Ego.
Secara subyektif mulai dari kehamilan yang direncanakan, pengalaman melahirkan sebelumnya, sikap dan persepsi, harapan selama persalinan, hubungan keluarga, pendidikan dan pekerjaan (ayah), masalah financial, religious, faktor budaya, adanya faktor resiko serta persiapan melahirkan. Dan secara obyektif, terdiri dari respon emosi terhadap persalinan, interaksi dengan orang pendukung, serta penatalaksanaan persalinan.
e. Eliminasi.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan eliminasi
f. Makanan atau cairan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan makanan atau cairan yang masuk kedalam tubuh baik secara parenteral maupun enteral serta kelainan-kelainan yang terkait.
g. Higiene.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan kebersihan diri klien.
h. Neurosensori.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan kondisi neurosensori dari klien.
i. Nyeri/Ketidaknyamanan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan rasa nyeri atau ketidaknyamanan dari klien akibat dari proses persalinan.
j. Pernafasan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan pernafasan serta kelainan-kelainan yang dialami dan kebiasaan dari klien.
k. Keamanan.
Data didapat secara subyektif dan obyektif terkait dengan alergi/sensitivitas, riwayat PHS, status kesehatan, bulan kunjungan prenatal pertama, masalah dan tindakan obstetric sebelumnya dan terbaru, jarak kehamilan, jenis melahirkan sebelumnya, tranfusi, tinggi dan postur ibu, pernah terjadi fraktur atau dislokasi, keadaan pelvis, persendian, deformitas columna fertebralis, prosthesis, dan alat ambulasi. Dan data objektif diperoleh dari suhu, integritas kulit (terjadi ruam, luka, memar, jaringan parut), parastesia, status dari janin mulai dar frekuensi jantung hingga hasil, status persalinan serta kelainan-kelainan terkait, kondisi dari ketuban, golongan darah dari pihak ayah ataupun ibu, screening test dari darah, serologi, kultur dari servik atau rectal, kutil atau lesi vagina dan varises pada perineum.
l. Seksual.
Data subjektif di dapat dari periode menstruasi akhir serta keadaan-keadaan terkait seksual dari ibu8 ataupun bayi dan juga riwayat melahirkan. Data objektif di dapat dari keadaan pelvis, prognosis untuk melahirkan, pemeriksaan bagian payudarah dan juga tes serologi.
m. Interaksi Sosial.
Data subjektif di dapat dari status perkawinan, lama tahun berhubungan anggota keluarga, tinggal dengan, keluarga besar, orang pendukung, leporan masalah. Data objektif di dapat dari komunikasi verbal/non verbal dengan keluarga/orang terdekat, pola interaksi social (perilaku).

3. 2 Analisa data
Analisis meliputi pemeriksaan temuan pengkajian, pengelompokan temuan yang berhubungan, dan membandingkan temuan terhadap parameter normal yang dibuat. Kemudian, untuk membuat diagnose keperawatan manjadi akurat adalah identifikasi masalah yang memfokuskan perhatian pada respon fisik atau perilaku saat ini atau beresiko tinggi yang mempengaruhi kualitas hasrat hidup klien atau pada apa yang menjadi kebiasaan (Doenges, 2001).
Diagnosa keperawatan menunjukkan masalah keperawatan/masalah klien, orang terdekat, dan atau perawat yang memerlukan intervensi keperawatan dan penatalaksanaan (Doenges, 2001:14).
The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) telah menerima definisi kerja dari diagnose keperawatan, yaitu: penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah-masalah kesehatan/proses kehidupan yang actual dan potensial. Diagnose keperawatan memberikan dasar terhadap pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil dimana perawat dapat bertanggung gugat.
Diagnosa keperawatan dari ASKEP solution plasenta, diantaranya :
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan trauma jaringan.
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien atau janin
3. Infeksi, resiko tinggi terhadap prosedur invasive.

3. 3 Rencana Keperawatan dan Implementasi
Rencana keperawatan tidak hanya terdiri dari tindakan yang dilakukan karena pesanan/ketentuan medis, tetapi juga koordinasi tertulis dari perawatn yang diberikan oleh semua disiplin pelayanan kesehatan yang berhubungan. Tindakan keperawatan mandiri adalah bagian integral dari proses ini. Tindakan kolaboratif didasarkan pada aturan medis sertan anjuran atau pesanan dari disiplin lain yang terlibat dengan asuhan terhadap klien.
Pada bagian ini, mengkomunikasikan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai hasil klien yang diinginkan. Rasional untuk intervensi perlu logis dan dapat dikerjakan dengan tujuan memberikan perawatan individual. Tindakan mungkin mandiri atau kolaboratifdan mencakup pesanan dari keperawatan, kedokteran, dan disiplin lain (Doenges, 2001).

Dx 1 Nyeri (akut) berhubungan dendan trauma jaringan
 Hasil yang diharapkan:
klien akan mengungkapkan penatalaksanaan/reduksi nyeri.
 Intervensi :
1. Bantu dengan penggunaan tekhnik pernafasan.
R/ mendorong relaksasi dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri.
2. Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi. Berikan instruksi bila perlu.
R/ relaksasi dapat membantu menurunkan tegangan dan rasa takut, yang memperberat nyeri.
3. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan, gosokan punggung, sandaran bantal, pemebrian kompres sejuk, dll)
R/ meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien.
4. Kolaborasi memberikan sedatif sesuai dosis
R/ meningkatkan kenyamanan dengan memblok impuls nyeri.

Dx 2 Ansietas berhubungan dengan ancaman yang dirasakan pada klien/janin.
 Hasil yang diharapkan:
Klien akan melaporkan ansietas berkurang dan/ atau teratasi, tampak rileks.
 Intervensi:
1. Kaji status psikologis dan emosional
R/ adanya gangguan kemajuan normal dari persaliann dapat memperberat perasaan ansietas dan kegagalan. Perasaan ini dapat mengganggu kerja sama klien dan menghalangi proses induksi.
2. Anjurkan pengungkapan perasaan.
R/ Klien mungkin takut atau tidak memahami dengan jelas kebutuhan terhadap induksi persalinan. Rasa gagal karena tidak mampu ”melahirkan secara alamiah” dapat terjadi.
3. gunakan terminologi positif, hindari penggunaan istilah yang menandakan abnormalitas prosedur atau proses.
R/ Membantu klien/pasangan menerima situasi tanpa menuduh diri sendiri.
4. Dengarkan keterangan klien yang dapat menandakan kehilangan harga diri.
R/ Klien dapat meyakini bahwa adanya intervensi untuk membantu proses persalinan adalah refleksi negatif pada kemampuan dirinya sendiri.
5. Berikan kesempatan pada klien untuk memberi masukan pada proses pengambilan keputusan.
R/ Meningkatkan rasa kontrol klien meskipun kebanyakan dari apa yang sedang terjadi diluar kontrolnya.
6. anjurkan penggunaan/kontinuitas teknik pernapasan dan latihan relaksasi.
R/ Membantu menurunkan ansietas dan bmemungkinkan klien berpartisipasi secara aktif.

Dx 3 Infeksi, resiko tinggi terhadap prosedur invasive.
 Hasil yang diharapkan:
Klien akan bebas dari infeksi, pencapaian tepat waktu dalam pemulihan luka tanpa komplikasi.
 Intervensi
1. Tinjau ulang kondisi/faktor risiko yang ada sebelumnya.
R/ Kondisi dasar ibu, seperti diabetes atau hemoragi, menimbulkan potensial risiko infeksi atau penyembuhan luka yang buruk. Risiko korioamnionitis meningkat dengan berjalannya waktu, membuat ibu dan janin pada berisiko. Adanya proses infeksi janin pada berisiko. Adanya proses infeksi dapat meningkatkan risiko kontaminasi janin.
2. Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi (misalnya, peningkatan suhu, nadi, jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina).
R/ Pecah ketuban terjadi 24 jam sebelum pembedahan dapat mengakibatkan korioamnionitis sebelum intervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan luka.
3. Kolaborasi melakukan persiapan kulit praoperatif; scrub sesuai protokol.
R/ Menurunkan risiko kontaminan kulit memasuki insisi, menurunkan risiko infeksi pascaoperasi.
4. Kolaborasi melakukan kultur darah, vagina, dan plasenta sesuai indikasi.
R/ Mengidentifikasi organisme yang menginfeksi dan tingkat keterlibatan.
5. Kolaborasi dalam mencatat hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht); catat perkiraan kehilangan darah selama prosedur pembedahan.
R/ Risiko infeksi pasca-melahirkan dan penyembuhan buruk meningkat bila kadar Hb rendah dan kehilangan darah berlebihan.
6. Kolaborasi dalam memberikan antibiotik spektrum luas pada pra operasi.
R/ Antibiotik profilaktik dapat dipesankan untuk mencegah terjadinya proses infeksi, atau sebagai pengobatan pada infeksi yang teridetifikasi.
3. 4 Evaluasi
Evaluasi respon klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian hasil yang diharapkan (yang dikembangkan dalam fase perencanaan dan di dokumentasikan dalam rencana keperawatan) adalah tahap akhir dari proses keperawatan. Fase evaluasi perlu untuk menentukan seberapa baik rencana asuhan tersebut berjalan dan bagaimanan selama proses terus menerus. Revisi rencana keperawatan adalah komponen penting dalam evaluasi.
Pengkajian ulang adalah proses evaluasi terus menerus yang terjadi tidak hanya hasil yang diharapkan terjadi pada klien di tinjau ulang atau bila keputusan dibutuhkan apakah klien siap atau tidak untuk pulang. (Doengos, 2001:15).
Evaluasi adalah proses berkelanjutan. Perawat dapat mengasumsikan perawatan tersebut telah efektif saat hasil yang diharapkan untuk perawatan dapat terjadi. (Wong, 2002:366).










BAB IV
PENUTUP

4. 1 Kesimpulan
Solulusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum janin lahir diberi beragam sebutan; abruption plasenta, accidental haemorage. Keadaan klien dengan solutio plasenta memiliki beberapa macam berdasarkan tingkat keparahannya, tingkat keparahan ini dilihat dari volume perdarahan yang terjadi mulai dari solutio ringan hingga berat.
Trauma langsung abdomen, hipertensi ibu hamil, umbilicus pendek atau lilitan tali pusat, janin terlalu aktiv sehingga plasenta dapat terlepas, tekanan pada vena kafa inferior, dan lain-lain diketahui bahwa sebagai penyebab dari solution plasenta. Beberapa faktor yang menjadi faktor predisposisi solution plasenta itu sendiri didapat dan diketahui mulai dari faktor fisik dan psikologis dengan kata lain ditinjau dari kebiasaan-kebiasaan klien yang dapat mendukung timbulnya solution plasenta. Adapun komplikasi dari solusio plasenta pada ibu dan janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas, usia kehamilan dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi terparah dari solution plsenta dapat mengakibatkan syok dari perdarahan yang terjadi, keadaan seperti ini sangat berpengaruh pada keselamatan dari ibu dan janin.
Penatalaksanaan dari solution plaseenta dapat dilakukan secara konservatif dan secara aktif. Masing-masing dari penatalaksaan tersebut mempunyai tujuan demi keselamatan baik bagi ibu, janin, ataupuun keduanya.

4. 2 Saran
 Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu memahami dan mendalami dari solution plasenta.
 Perawat serta tenaga kesehatan l;ainnya mampu meminimalkan faktor risiko dari solution plasenta demi mempertahankan dan meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak.
 Institusi kesehatan terkait dapat menyediakan dan mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalm kejadian-kejadian abnormalitas ibu terkait dengan kehamilan dan persalinan.
 Masyarakat mampu dan mau mempelajari keadaan abnormal yang terjadi pada mereka sehingga para tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan secara dini dan mampu mengurangi jumlah mortalitas padaibu dan janin.
 Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
 Mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan mampu menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan pada masyarakat secara menyeluruh.















DAFTAR PUSTAKA

Cunningham FG, dkk,. 2001. Obstetrical haemorrhage. Wiliam obstetrics 21th edition. Lange USA: Prentice Hall International Inc Appleton.

Doengoes, Marilynn E, dkk,. 2001. Rencana perawatan maternal/bayi. Edisi 2. Jakarta: EGC.

http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/16/karakteristik-kasus-solusio-plasenta-di-bagian-obstetri-dan-ginekologi-rsud-arifin-achmad-pekanbaru-periode-1-januari-2002-31-desember-2006/. Diakses tanggal 22 Maret 2008.

Manuaba, Chandarnita, dkk,. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi & obstetri-ginekologi sosial untuk profesi bidan. Jakarta: EGC.

Prawirohardjo S, Hanifa W. 2002. Kebidanan Dalam Masa Lampau, Kini dan Kelak. Dalam: Ilmu Kebidanan, edisi III. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Wong, Dona L, dkk,. 2002. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis: Mosby Inc.

Kamis, 29 April 2010

pengetahuan tentang bahayanya rokok pada siswa SMA


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Negara maju seperti Amerika Serikat kebiasaan merokok ada kecenderungan menurun, karena sejak beberapa tahun lalu di negara tersebut telah ada gerakan yang menyatakan bahwa merokok merupakan perilaku buruk, tidak berpendidikan, lain halnya di negara berkembang ada kecenderungan meningkat untuk merokok. Dewasa ini di negara berkembang telah menjadi sasaran reklame rokok guna memasarkannya. Negara maju pun di kalangan remaja dan dewasa muda cenderung meningkat dalam kebiasaan merokok (Departemen Kesehatan RI, 1992).
Laporan (World Health Organization) WHO juga menyebutkan jumlah perokok meningkat 2,1% pertahun di negara berkembang. Negara maju angka ini menurun sekitar 1,1 % pertahun. Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8% pria dan 9,8% wanita dengan usia diatas 13 tahun adalah perokok. Bahkan pada kelompok remaja, 49% pelajar pria dan 8,8% pelajar wanita di Jakarta sudah merokok (www.kompas.com, 2003)
Mengacu pada data Bank Dunia pada tahun 1999 perolehan cukai rokok di Indonesia hanya Rp 2,6 triliun dan kerugian masyarakat akibat rokok mencapai sekitar Rp 14,5 triliun yaitu berupa beban biaya pengobatan, kecacatan dan penurunan produktivitas. Aspek perilaku merokok di Indonesia jauh melampaui perilaku kesehatan masyarakat. Jadi dapat dikatakan masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi rokok dibandingkan dengan mengutamakan aspek kesehatan. Pernyataan ini didasarkan pada realitas bahwa belanja rokok di Indonesia mencapai Rp 100 triliun, sedangkan belanja obatnya hanya Rp 20 triliun. (www.republikonline. com, 2003).
Data dari rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa merokok menunjukkan faktor resiko pertama dan tertinggi bagi serangan jantung. Usia muda di bawah 40 tahun, merokok merupakan faktor resiko pertama bagi penyakit jantung koroner dan ditemukan pula bahwa sebagian besar (62-83%) yang terkena serangan jantung di bawah umur 40 tahun adalah perokok berat dan sedang (Dep.Kes. RI, 1992).
Berbagai penelitian tentang bahaya merokok sudah banyak dilakukan, diantaranya kebiasaan merokok mempengaruhi peningkatan kolesterol dan trigliserida secara bermakna dibandingkan dengan yang bukan perokok. Akhir-akhir ini beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara radikal bebas dengan terjadinya kanker yang disebabkan oleh rokok. (Bina Didik Tenaga Kesehatan, 2001). Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari niterogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium.
Umumnya fokus penelitian ditujukkan pada peranan nikotin dan karbon monoksida (CO). Kedua bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen juga mengganggu suplai oksigen keotot jantung. Merokok menjadi faktor utama penyebab penyakit pembuluh darah jantung. Bukan hanya menyebabkan penyakit jantung koroner, merokok juga berakibat buruk bagi pembuluh darah ke otak (www.kompas.com, 2003).
Banyak penelitian dilakukan, bahwa merokok mengganggu kesehatan tubuh. Merokok terutama dapat menimbulkan penyakit kardiovaskuler dan kanker, baik kanker paru-paru, oesophagus, laryng dan rongga mulut. Merokok juga dapat menimbulkan kelainan-kelainan rongga mulut, misalnya pada lidah, gusi, mukosa mulut, gigi dan langit-langit. Asap rokok mengandung komponen-komponen dan zat¬zat yang berbahaya bagi tubuh, seperti nikotin, tar dan karbon monoksida. (www.depkes.ri.com, 2004)
Kini makin banyak diteliti dan dilaporkan pengaruh buruk merokok pada ibu hamil, impotensi, menurunnya kekebalan tubuh, termasuk pada pengidap virus hepatitis, kanker saluran cerna dan lain-lain. Penurunan kekebalan tubuh pada perokok menjadi pencetus lebih mudahnya terlCena Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).
Asap rokok rnerupakan polutan bagi manusia dan lingkun-an sekitarnya. Bukan hanya bagi kesehatan, merokok menimbulkan pula problem dibidang ekonomi. Sudut ekonomi kesehatan, menyatakan bahwa dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan bahkan negara (www.kompas.com, 2003).

Hasil pengamatan yang dilakukan di SMA Negeri 2 Metro selama 3 hari ternyata pada saat pulang sekolah terdapat siswa laki laki yang merokok. Data yang diperoleh tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa yang menyebutkan bahwa pada kelompok remaja ada 49% pelajar pria dan pelajar wanita sudah merokok (www.kompas.com,2003).
Berdasarkan data di atas penulis ingin mengetahui pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Metro. Mengingat bahwa bahaya rokok sangat banyak dan fatal akibatnya apalagi bila sudah dimulai sejak usia dini.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang maka penulis membuat rumusan masalah "Bagaimana pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok di SMA Negeri 2 Metro".

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok di SMA Negeri 2 Metro.
2. Tujuan khusus
a. Diketahui pengetahuan siswa kelas II mengenai pengertian rokok
b. diketahui pengetahuan siswa kelas II mengenai zat-zat yang berbahaya dalam rokok.
c. Diketahui pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan

D. Ruang Lingkup
Penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian :
1. Jenis penelitian adalah deskriptif.
2. Objek penelitian adalah pengetahuan siswa kelas II Mengenai bahaya rokok di SMA Negeri 2 Metro.
3. Subjek penelitian adalah semua siswa kelas II di SMA Negeri 2 Metro
4. Lokasi penelitian adalah SMA Negeri 2 Metro
5. Waktu penelitian dilaksanakan pada Mei 2008

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat :
a. Bagi Institusi Program Studi Kebidanan
Sebagai sumber referensi pelajaran terutama yang berkaitan dengan bahaya rokok.

b. Bagi Siswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan siswa mengenai bahaya rokok, agar siswa semakin mantap untuk menghindari rokok, karena bahaya rokok sangat banyak.


c. Bagi Institusi SMA Negeri 2 Metro
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok dengan mengadakan penyuluhan atau mengadakan extrakulikuler yang membahas tentang bahaya rokok.

d. Bagi Peneliti
Sebagai penerapan mata kuliah Metodologi Penelitian dan menambah pengalaman dalam penulisan KTI, Serta sebagai masukan pengetahuan tentang bahaya merokok.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mendukung permasalahan yang diungkapkan dalam usulan penelitian, diperlukan tujuan kepustakaan yang kuat. Tujuan kepustakaan ini sangat penting dalam mendasari penelitian yang akan dilakukan.
A. Variabel Penelitian
1. Rokok
a. Pengertian Rokok
Rokok biasanya berbentuk silinder terdiri dari kertas yang berukuran panjang antara 70 hingga 120 dengan diameter 10 mm berwarna putih dan coklat Biasanya berisi daun daun tembakau yang telah dicacah ditambah sedikit racikan racikan seperti cengkeh saus rokok serta racikan lainnya (Sugeng D.Triswan to,2007).
Merokok sudah merupakan hal yang biasa kita jumpai dimana-mana di dunia, kebiasaan ini sudah begitu luas dilakukan baik dalam lingkungan berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah. Merokok sudah menjadi masalah yang kompleks yang menyangkut aspek psikologis dan gejala sosial (www:depkes.ri.com, 2004).
Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok itu sendiri (Soetjiningsih dalam Subanda B, 2004). Dibandingkan dengan yang bukan perokok. Rokok juga dapat menyebabkan kanker (Bina Pendidikan Tenaga Kesehatan, 2001).
Penelitian menunjukkan bahwa rokok / tembakau adalah :
1) Pintu pertama ke narkotika
2) Rokok merupakan pembunuh nomor 3 setelah jantung koroner dan kanker
3) Satu batang rokok umur memendek 12 menit
4) 57.000 orang mati karena rokok (Indonesia).
Mereka yang tidak merokok tetapi terkena asap rokok dari mereka yang merokok juga akan mengalami gangguan pada kesehatan dengan resiko yang sama (Hawari, 2001).
Seseorang yang bukan perokok, tetapi yang ikut mengkonsumsi asap rokok beserta zat-zat yang terkandung didalamnya disebut perokok pasif. Asap yang dihasilkan dari rokok yang mengepul keluar ditambah dengan asap yang dihembuskan oleh perokok, mengandung zat kimia lebih tinggi dari pada yang dihisap oleh perokok itu sendiri. Artinya asap rokok tidak saja berbahaya bagi perokok melainkan juga perokok pasif atau bukan perokok (Dep.Kes. RI, 1992).
Penelitian menunjukkan bahwa tiap satu batang rokok mengandung kurang lebih 4.000 elemen dan setidaknya 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin dan karbon monoksida (www.republikonline.com, 2003).
b. Kandungan Zat-Zat pada Rokok yang Berbahaya bagi Kesehatan
Bahan kimia ada 4000 jenis telah ditemukan dalam rokok, dengan 40 jenis diantaranya bersifat karsinogen (dapat menyebabkan kanker). Bahan racun MI. lebih banyak didapatkan pada asap samping, misalnya karbon monoksida 5 kali lipat lebih banyak ditemukan pada asap samping dari pada asap utama, benzopiren 3 kali dan amoniak 50 kali. Bahan-bahan ini dapat bertahan sampai beberapa jam lamanya dalam ruang setelah berhenti merokok. Umumnya fokus penelitian ditujukan pada peranan nikotin dan karbon monoksida. Kedua bahan ini selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (www.kompas.com, 2003) Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung komponen gas dan partikel. Komponen gas terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dan' niterogen dan senyawa hidrokarbon. Kompanen partikel terdiri dari tar, nikotin, benzopiren, fenel dan kadmium. Asap rokok yang dihembuskan para perokok dapat dibagi atas asap utama dan asap samping. Asap utama rnerupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau perokok pasif (www.kompas.com, 2003).

Asap rokok mengandung komponen-komponen dan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Banyaknya komponen tergantung pada tipe tembakau, temperatur pembakaran, panjang rokok, prioritas kertas pembungkus, bumbu rokok serta ada tidaknya filter. Zat-zat yang berbahaya berupa gas-gas atau partikel-partikel. Asap rokok yang dihisap 90% mengandung berbagai gas seperti N2, 02, C02 10% sisanya mengandung partikel tertentu seperti tar, nikotin dan lain-lain (www.depkes.ri.com, 2004).
Banyak zat yang berbahaya dari asap rokok, tetapi ada 3 (tiga) bahan pokok yang paling berbahaya adalah karbon monoksida, tar dan nikotin.
1) Karbon Monoksida
Karbon monoksida (CO) merupakan gas beracun yang tidak bau sama sekali. Karbon monoksida yang terdapat dalam asap rokok dapat mengikat dirinya pada haemoglobin (Hb) darah yang mengakibatkan oksigen (O2) tersingkir dan tidak dapat digunakan oleh tubuh. Efek selanjutnya adalah jaringan pembuluh darah akan menyempit dan mengeras. Sehingga akhirnya dapat menyebabkan penyumbatan. Satu batang rokok yang dibakar mengandung 3-6% karbon monoksida. Asap rokok dari pipa mengandung karbon monoksida 2 kali dan asap dari cerutu mengandung karbon monoksida 5-6 kali dibandingkan dari asap rokok sigaret kretek (Dep.Kes. RI., 1992).
Karbon monoksida dapat menurunkan secara langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh. Karbon monoksida menggantikan tempat oksigen di haemoglobin (Hb), menggangu pelepasan oksigen dan mempercepat aterosclern.sis (pengaturan atau penebalan dinding pembuluh darah). Dengan demikian, karbon monoksida menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan vikositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah (www.kompas.com, 2003).
2) Tar
Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru (www.republikonline.com, 2003). Tar adalah komponen dalam asap rokok yang tinggai sebagai sisa sesudah dihilangkan nikotin dan tetesan-tetesan cairannya. Sebatang sigaret kretek dan pipa menghasilkan 10¬30 mg tar. Cerutu dan pipa menghasilkan tar yang lebih banyak. Tar merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambahkan pada tembakau dalam proses pertanian dan industri sigaret serta bahan pembuat rokok lainnya. Kadar tar dalam rokok inilah yang berhubungan dengan timbulnya kanker (Dep. Kes. RI, 1992).

3) Nikotin
Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi saraf dan peredaran darah (zat ini bersifat karsinogen dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan) (www.republikonline.com, 2003). Nikotin adalah salah satu racun yang sangat cepat beraksi dan mematikan. Nikotin dalam tahap pertama dan sementara mempunyai rangsangan dan dalam jangka panjang secara perlahan-lahan merusak. Akibat dari nikotin menyebabkan pembuluh darah menjadi sempit, denyut jantung bertambah dan mudah terserang darah tinggi. Nikotin yang diserap dari rokok melalui selaput lendir mulut, hidung dan tertinggi bagi serangan jantung. Efek rokok terhadap jantung adalah karena gas karbon monoksida yang terkandung dalam asap rokok dapat mengikat Hb, yang berakibat oksigen tersingkat tidak dapat digunakan oleh tubuh. Penyempitan pembuluh darah kecil dikulit sehingga sirkulasi darah ke kulit akan berkurang dan kulit menjadi pucat. Kerusakan serabut-serabut jaringan ikat yang berakibat kulit tidak elastis. Kulit menjadi kendor, keriput dan Wit akan kehilangan kelembaban, produksi minyak kulit berkurang dan kulit akan kekurangan vitamin C yang berperan penting dalam pemeliharaan serabut kolagen dan elastis untuk keelastisan kulit. Hal ini terjadi karena zat yang beracun dari tembakau seperti nikotin, karbon monoksida dan oksida-oksida nitrogen yang mensabot kemampuan darah untuk mengikat darah (Dep. Kes. RI, 1992).
Hubungan antara merokok dan kanker paru-paru erat hubungannya dengan kebiasaan merokok, terutama sigaret kretek. Bahkan ada yang secara tegas menyatakan bahwa rokok sebagai penyebab utama terjadinya kanker paru-paru. Partikel asap rokok seperti benzopiren dan tar dikenal sebagai bahan karsinogen yang dapat menimbulkan terjadinya kanker paru-paru. Dibandingkan dengan bukan perokok, kemungkinan timbulnya kanker paru¬paru pada perokok mencapai 10-30 kali lebih sering (www.kompas.com, 2003).
Efek racun pada rokok membuat pengisap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok) yaitu : (1) 14 x menderita kanker paru-paru, mulut dan juga tenggorokan, (2) 4 x menderita kanker esofagus (3) 2 x menderita kanker kandung kemih, (4) 2 x menderita serangan jantung (5) rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi (www.republikonline.com, 2003).
Terkait kompleksnya dampak rokok maka menteri kesehatan pemah menyatakan bahwa laju kematian akibat merokok di Indonesia mencapai 57.000 orang pertahun. Perlu juga bagi kita untuk membandingkan keuntungan dan kerugian dari industri rokok di Indonesia. Mengacu pada data Bank Dunia pada tahun 1999 perolehan cukai rokok di Indonesia hanya Rp. 2,6 triliun dan kerugian masyarakat akibat merokok mencapai sekitar Rp. 14,5 triliun yaitu berupa beban biaya, pengobatan, kecacatan dan penurunan produktivitas. Lebih mengerikan lagi ternyata aspek perilaku merokok di Indonesia jauh melampaui perilaku kesehatan masyarakat. Asumsi yang diperoleh bahwa masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi rokok dibanding dengan mengutamakan aspek kesehatan (www.republikonline.com, 2003).
Asap rokok merupakan polutan bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Bukan hanya bagi kesehatan, merokok menimbulkan pula problem di bidang ekonomi. Dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah biaya yang dikeluarkan, balk individu maupun keluarga (www.kompas.com, 2003).
Merokok dapat menimbulkan penyakit kardiovaskuler dan kanker, balk kanker paru-paru, oesophagus dan laryng. Menimbulkan juga kelainan¬kelainan pada rongga mulut misalnya pada lidah, gusi, mukosa mulut, gigi dan langit-langit yang berupa stomatitis nikotina dan infeksi jamur.
1. Pengaruh rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut
Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Noda ini pada mulanya dianggap disebabkan oleh nikotin, tetapi sebetulnya disebabkan oleh hasil pembakaran tembakau yang berupa tar. Nikotin sendiri tidak berwarna dan mudah larut, warna coklat pada gigi perokok biasa sedangkan warna hitam terjadi pada perokok yang menggunakan pipa.
Kebiasaan merokok sangat mempengaruhi kesehatan mulut terutama perubahan mukosa. Perubahan ini tidak menimbulkan rasa sakit (lesi pra ganas) sehingga tidak diperhatikan oleh si penderita, sampai keadaan menjadi lanjut (www.depkes.ri.com, 2004).
2. Pengaruh merokok terhadap lidah
Perokok berat, merokok dapat menyebabkan rangsangan pada papila filifornzis (tonjolan / juntaian pada lidah bagian atas) sehingga menjadi lebih panjang (hipertropi). Hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan mudah dideposit, sehingga perokok sukar merasakan rasa pahit, asin dan manis. Karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (www.depkes.ri.com, 2004).
3. Pengaruh merokok terhadap gusi
Jumlah karang gigi pada rokok cenderung lebih banyak dari pada yang bukan perokok. Karang gigi yang tidak dibersihkan dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti gingivitis atau gusi berdarah. Hasil pembakaran rokok dapat menyebabkan gangguan sirkulasi peredaran darah kegusi sehingga mudah terjangkit penyakit (www.depkes.ri.com, 2004).


4. Penebalan mukosa akibat merokok
Merokok merupakan salah satu faktor penyebab leukoplakia yaitu suatu bercak putih atau plak pada mukosa mulut yang tidak dapat dihapus. Hal ini bisa dijumpai pada usia 30 - 70 tahun yang mayoritas penderitanya pria terutama yang perokok.
Iritasi yang terus menerus dari hasil pembakaran tembakau menyebabkan penebalan pada jaringan mukosa mulut. Sebelum gejala klinis terlihat, iritasi dari asap tembakau ini menyerang sel-sel epitel mukosa, sehingga aktifitasnya meningkat. Gejala ini baru terlihat bila alctifitas selluler bertambah dan epitel menjadi tebal, terutama tampak pada mukosa bukal (mukosa yang menghadap kepipi) dan pada dasar mulut. Perubahan mukosa mulut terlihat sebagai bercak putih. Bercak putih tersebut mungkin disebabkan karena epitel yang tebal jauh dengan saliva (air ludah). Para ahli mengatakan bahwa leukoplakia merupakan lesi pra-ganas didalam mulut. Perubahan leukoplakia menjadi ganas 3 - 6% (www.depkes.ri.com, 2004).
Sudut ekonomi kesehatan menyatakan, dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan bahkan negara.
Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok mempengaruhi penyediaan tenaga kerja, terutama tenaga terampil, dengan kematian mendadak atau kelumpuhan yang timbul, jelas menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan. Penurunan produktivitas tenaga kerja menimbulkan penurunan pendapatan perusahaan, juga beban ekonomi yang tidak sedikit balk individu dan keluarga. Pengeluaran untuk biaya kesehatan meningkat bagi keluarga, perusahaan, maupun pemerintahan. (www.kompas.com, 2003).

2. Pengetahuan
Pengetahuan menurut Notoaimodjo (2002), adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Sedangkan menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan.
Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan adalah hasil tahu yang didapat seseorang setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Sementara itu menurut Notoatmodjo (2003) membagi tingkat pengetahuan sebagai berikut :
1) Tahu (know)
Artinya kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
2) Memahami (comprehension)
Artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui.
3) Aplikasi (aplication)
Artinya suatu kemampuan untuk mempergunakan materi atau objek yang' telah dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya).

4) Analisis (analysis)
Artinya suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struk'tur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (syntesis)
Artinya suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian¬-bagian ke daiam suatu bentvk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyajikan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkatan di atas.




B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2002). Dalam penelitian ini dengan menggali pada latar belakang dan landasan teori, maka dalam penelitian ini dibuat kerangka konsep sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen




Gambar 1. Bagan Kerangka Konsep Penelitian.

C. Definisi Operasional
Menurut Notoatmodjo (2002), untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati atau diteliti, perlu sekali variabel-variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur). Adapun dalam penelitian ini,variabel yang akan didefinisikan secara operasional dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 1. Definisi Operasional Pengetahuan Siswa Mengenai Bahaya Rokok di SMA Negeri 2 Metro Tahun 2008

Variabel Yang
Diteliti Defenisi Operasional Variabel Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Pengetahuan tentang
bahaya rokok:
a. Pengertian rokok
b. Kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok
c. Bahaya rokok terhadap kesehatan
Pemahaman
responden tentang
pengertian
rokok, apa yang
dimaksud dengan
rokok,dan kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok serta bahaya rokok terhadap kesehatan Angket Kuisioner - Baik
76%-100%
- Cukup
56-75%
- Kurang
40%-55%
- Kurang sekali
< 40% Ordinal






















BAB III
METODE PENELITIAN


Bagian ini menguraikan tentang metode atau cara yang akan digunakan dalam penelitian. Oleh sebab itu, dalam uraian itu telah tercermin langkah-langkah teknis dan operasional penelitian yang akan dilaksanakan.

A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian diskriptif. Menurut Notoatmodjo (2002), penelitian diskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau diskriptif tentang suatu keadaan secara objektif. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan siswa kelas II SMA N 2 Metro mengenai bahaya rokok.

B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 2 pada siswa Metro kelas II. Lokasi penelitian ini dipilih dengan pertimbangan bahwa penulis sudah mengenal kondisi di lokasi penelitian dan secara sepintas terlihat ada beberapa siswa kelas II yang merokok.


C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah subjek yang hendak diteliti dan memiliki sifat yang sama. Menurut Notoadmodjo (2002), Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Menurut Sugiyono (2002), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, objek/ subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian di tarik kesimpulannya.
Data yang di dapat menunjukkan bahwa ada 49% pelajar pria yang sudah merokok (wvw.kompas.com, 2003). Mengingat juga bahaya rokok sangat banyak dan dalam penelitian ditemukan data bahwa lebih banyak pelajar pria dibandingkan dengan pelajar wanita yang meokok. Sesuai dengan tujuan yang diinginkan, maka dalam penelitian ini menggunakan populasi siswa kelas II di SMA Negeri 2 Metro sebanyak 208 siswa.

2. Sampel
Menurut Arikunto (2002) Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Selanjutnya Notoadmojo, (2002) Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Apabila subjek penelitian kurang dari seratus, lebih baik sample diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelittian populasi dan jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto,1998).
Dari pendapat diatas maka besar sample yang menjadi subjek dalam penelitian adalah sebesar 25% dari jumlah populasi yang ada yaitu 25% x 208= 52 orang.

D. Variabel Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2002), Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. Defenisi lain mengatakan bahwa variabel adalah suatu yang dipergunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu, misalnya: umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya. Penelitian ini variabel bebasnya adalah pengetahuan. Sedangkan variabel indepeden atau tergantung adalah variabel akibat, yang dipengaruhi oeh variabel dependen. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah bahaya rokok.

E. Pengukuran Variabel Penelitian
Penelitian ini penulis menggunakan alat ukur penelitian berupa kuesioner. Menurut pendapat Notoatmodjo (2002), kuesioner adalah pertanyaan yang tersusun dengan baik sudah matang, dimana responden tinggal memberikan jawaban atau memberikan tanda-tanda tertentu. Pengukuran variabel yang penulis gunakan adalah skala interval. Menurut Notoadmodjo (2002), skala interval seperti skala ordinal tetapi himpunan tersebut memberikan nilai interval atau jarak antara urutan kelas yang bersangkutan, kelebihan dari skala ini adalah jarak nomor yang sama menunjukkan juga jarak yang sama dari sifat yang di ukur.
Alat ukur yang digunakan pada penelitian tentang pengetahuan siswa mengenai rokok adalah :
Pengukuran pengetahuan mengenai rokok, teknik pengukuran yang digunakan adalah angket dan alat ukur berupa kuesioner yang diberikan kepada responden. Pada setiap item pertanyaan terdapat dua alternatif jawaban, benar dan salah. Bila benar mendapat skor 1 (nilai tertinggi) dan bila jawaban yang diberikan salah mendapat skor 0 (nilai terendah).
Tabel 2. Kisi-kisi pertanyaan tentang pengetahuan bahaya merokok
No Pengetahuan Nomor Soal
1.
2.
3. Pengertian rokok
Kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok
Bahaya rokok terhadap kesehatan 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
11, 12,13,14,15,17,18,19,20
21,22,23,24,25,26,27,28,29,30

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengumpulan data, meliputi.
1. Tahap persiapan
Dalam tahap persiapan ini berisikan beberapa kegiatan data meliputi :
a. Mengurus perizinan kepada pimpinan wilayah kerja setempat dan pemimpin institusi tempat penilaian.
b. Menyusun lay out kuesioner
c. Menyusun item-item dalam bentuk pertanyaan
d. Memperbanyak kuesioner
2. Langkah pelaksanaan
Langkah pelaksanaan yaitu mencakup pelaksanaan penelitian melalui tahapan sebagai berikut :
a. Menyerahkan surat izin untuk mengadakan penelitian
b. Menetapkan sampel penelitian
c. Menyebarkan kuesioner
d. Mengumpulkan kuesioner yang telah disebarkan
e. Memproses dan menganalisis data kuesioner.

3. Langkah-pengolahan data
Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisa data. Hasil pengolahan dan analisa data dirumuskan dalam kesimpulan penelitian.

F. Analisa Data
Teknik analisis data yang penulis ajukan adalah frekuensi dengan analisis univariat, dengan melihat variabel yang bersifat kualitatif. Setelah data yang diperlukan terkumpul maka dilakukan pengolahaan data dengan tahapan sebagai berikut :
1. Editing
Pada tahap ini, penulis melakukan penilaian terhadap data yang diperoleh kemudian diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam pengisiannya.


2. Coding
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tettentu pada tiap-tia~ data sehingga memudahkan dalam melakukan analisa data
3. Tabulating
Pada tahap ini jawaban jawaban responden yang sama dikelompokkan dengan teliti dan teratur lalu dihitung dan dijumlahkan kemudian ditbliskan dalam bentuk tabel.
4. Analiting
Pengblahan dan analisis data pada variabel pengetahuan dilakukan secara manual dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
P = x 100%

Keterangan
P = Persentase
a = Jumlah pertanyaan yang dijawab benar
B = Jumlah pertanyaan (Arikunto, 1998)

Sedangkan penentuan kategori penelitian menurut Arikunto (1998) dinilai dengan cara sebagai berikut :
a. Kategori baik, jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden adalah 76¬100%
b. Kategori cukup, jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden adalah 56-75%.
c. Kategori kurang baik, jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden adalah 40-55%.
d. Kategori tidak baik, jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden adalah kurang dari 40%.

























BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Gambaran Umum SMA Negeri 2 Metro
1. Sejarah Singkat SMA Negeri 2 Metro
SMA Negeri 2 Metro berdiri pada tahun 1991 dan di kepalai oleh Drs.Kamiludin. SMA 1Vegeri 2 Metro berdiri diatas luas taritth 20000 m2, yang terletak di jalan Sriwijaya. Mulyosari 16a Metro Barat.
Mulai berdiri hingga saat ini SMA Negeri 2 Metro mehgalami beberapa kali penggantian kepala sekolah, sebagai berikut :
a. Pada saat berdiri tahun 1991 - 2002 : Drs. Kamiludin
b. Tahun 2002 - 2004 : Drs. Murni Siregar
c. Tahun 2005 sampai sekarang : Hartanto, S.Pd

2. Lokasi SMA Negeri 2 Metro
SMA Negeri 2 Metro terletak di jalan Sriwijaya Mttlyosari 16A Metro Barat.

3. Sarana dan Prasarana
a. Tenaga Pelaksana
Tenaga Pelaksana di SMA Negeri 2 Metro terdiri dari 48 orang, yaitu:
1) 1 orang kepala sekolah
2) 1 orang wakil kepala sekolah urusan kesiswaan
3) 1 orang wakil kepala sekolah urusan kurikulum
4) 1 orang koordinator TU 5) 37 orang guru
5) 7 orang pelaksana TU
b. Jumlah siswal
Jumlah siswd yang mengikuti proses pembelajaran di SMA Negeri 2 Metro sebariyak siswa, yaitu :
1) Kelas I jumlah siswa laki-laki 116 orang dan 97 drang siswl perempuan
2) Kelas II jumlah siswa laki-laki 110 orang darl 99 orang siswi perempuan
3) Kelas III jumlah siswa laki-laki 98 orang dati 0 orang siswi perempuan
c. Sarana Belajar
Sarana yang mendukung proses belajar mengajar di SMA Negeri 2 Metro adalah :
1) Lokal belajar (ruang kelas) yang terdiri 14 lokal
2) Perpustakaan
3) Ruang TU
4) Ruang kepala sekolah
5) Ruang guru
6) Ruang BP/BK
7) Ruang UKS
8) Ruang OSIS
9) Laboratorium IPA
10) Mushola
11) Ruang komputer 1
12) 2) WC guru
13) WC Siswa

d. Jumlah buku di Perpustakaan
Jumlah buku yang ada di perpustakaan yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar mengajar, adalah :
1) Jumlah buku sastra ada 45 buah
2) Jumlah buku referensi ada 28 buah
3) Jumlah buku ensiklopedi ada 5 buah
4) Jumlah buku pegangan umum ada 112 buah
5) Jumlah buku agama ada 40 buah

B. Hasil Penelitian
Hasil penelitian mengenai pengetahuan siswa kelas II SMA Negeri 2 Metro mengenai bahaya rokok diperoleh melalui kuesioner yang terdapat 30 pertanyaan mengenai pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok yang diberikan kepada 52 responden di SMA Negeri 2 Metro.
Penelitian ini terdiri dari 3 sub variabel yang meliputi pengertian rokok, kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok dan bahaya rokok terhadap kesehatan
Berikut ini akan disajikan hasil penelitian tersebut berdasarkan sub variabel dalam bentuk tabel.
a. Pengertian Rokok
Tabel 3. Distribusi Pengetahuan Responden Menurut Item Pertanyaan Mengenai Pengertian Rokok

No Pertanyaan Jawaban
B % S %
1 Rokok adalah suatu zat adiktif yang dapat menimbulkan rasa ketagihan 35 61,5 17 38,5
2 Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok 30 57,6 22 42,4
3 Bila anda merokok asap rokok yang anda hembuskan
itu merupakan polusi udara bagi orang yang ada
disekitar anda 49 94 3 6
4 Bila seseorang yang ada didekatmu bukan seorang
perokok tetapi dia ikut menghisap asap rokok yang
kamu hembuskan disebut dengan perokok pasif. 40 77 12 23
5 Bahan-bahan yang terdapat di dalam rokok seperti tar, nikotin, dan lain-lain tidak berbahaya bagi kesehatan 36 69 16 21
6 Salah satu kandungan rokok yaitu karbon monoksida dapat mengikat diri dengan sel darah merah dan
mengakibatkan penyem itan embuluh darah. 30 58 22 42
7 Nikotin dalam rokok tidak menyebabkan ketagihan
pada si perokok 37 71 15 29
8 Rokok banyak mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi kesehatan 50 96 2 4
9 Bila anda merokok, asap rokok yang anda hembuskan
tidak mencemari udara orang-orang yang ada di
sekitar anda 48 92 4 8
10 Nikotin dalam rokok berbahaya untuk kesehatan dan
dapat menyebabkan rasa ketagihan 47 90 5 10
Jumlah 402 77,3 118 22,7


Berdasarkan data di atas didapatkan bahwa pengetahuan siswa mengenai pengertian rokok di SMA Negeri 2 Metro siswa yang dapat menjawab benar ada 77,3% dan yang menjawab salah ada 22,7%. Termasuk dalam kategori baik dengan kemampuan menjawab pertanyaan 77,3% yang diperoleh dengan cara jumlah jawaban benar (402) dibagi dengan jumlah seluruh soal (520) di kali dengan 100%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini :












Gambar 2. Diagram Kategori Distribusi Pengetqhuan Respotiden Menurut Item Pertanyaan Mengenai Pengertian Rokok

b. Kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok
Tabe l4. Distribusi Pengetahuan Responden Menurut Item Pertanyaan Mengenai Kandungan Zat-Zat Yang Berbahaya Dalam Rokok

No Pertanyaan Jawaban
B % S %
11 Penyakit yang timbul dari akibat merokok salah satunya kanker paru. 48 92 4 8
12 Merokok tidak begitu berbahaya bagi kesehatan 45 86 7 14
13 Rokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan
kanker paru 40 77 12 23
14 Tidak ada hubungan yang berarti antara merokok
dengan kesehatan si perokok. 38 73 14 27
15 Rokok tidak mengandung racun yang tidak
membahayakan tubuh 35 67 17 23
16 Biaya yang dikeluarkan untuk merokok lebih besar
di banding yang tidak merokok 40 77 12 21
17 Rokok dapat mempengaruhi penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah. 36 69 16 21
18 Tidak ada enyakit yang disebabkan oleh rokok 44 85 8 15
19 Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok,
tidak mengganggu beban ekonomi seorang perokok 43 83 9 17
20 Beban ekonomi antara seorang perokok dengan
seorang yang tidak merokok tidak ada bedanya. 45 86 7 14
Jumlah 414 79,6 106 20,4

Berdasarkan data di atas didapatkan bahwa pengetahuan siswa mengenai kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok di SMA Negeri 2 Metro siswa yang dapat menjawab benar ada 79,6% dan yang menjawab salah ada 20,4%. Termasuk dalam kategori baik dengan kemampuan menjawab pertanyaan 79,6% yang diperoleh dengan cara jumlah jawaban benar (414) di bagi dengan jumlah seluruh soal (520) di kali dengan 100%.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini :




Gambar 3. Diagram Kategori Distribusi Pengetahuan Responden Menurut Item Pertanyaan Mengenai Kandungan Zat-zat yang berbahaya dalam Rokok

c. Bahaya rokok terhadap kesehatan
Tabe15. Distribusi Pengetahuan Responden Menurut Item Pertanyaan Mengenai Bahaya Rokok terhadap Kesehatan

No Pertanyaan Jawaban
B % S %
21 Bahaya rokok terhadap kesehatan salah satunya adalah
pengaruh rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut. 36 69 I 16 21
22 Tidak ada keuntungan bagi yang tidak merokok 35 67 17 23
23 Kebiasaan merokok tidak dapat dihentikan 25 48 27 42
24 Rokok dapat menimbulkan karang gigi yang tidak bisa
dibersihkan 34 65 18 35
25 Merokok dapat menyebabkan impotensi (lemah syahwat), menurunnya kekebalan individu dan kanker 48 92 4 8
26 Penyumbatan pembuluh darah ke otak yang bersifat
mendadak atau stroke pada seorang perokok tidak ada kaitannya dengan rokok 30 58 22 42
27 Seorang yang tidak merokok, kecil kemungkinan terkena kanker paru- paru di bandingkan dengan yang merokok 29 56 23 44
28 Banyak cara yang dapat digunakan untuk berhenti
merokok 33 63 19 37
29 Rokok tidak berpengaruh terha.dap kesehatan gigi dan
mulut 32 61 20 29
30 Antara seorang perokok dengan seorang yang tidak
merokok sama kemungkinannya untuk terkena kanker
paru-paru. 21 40 31 60
Jumlah 323 62,1 197 37,9
Berdasarkan data di atas diperoleh bahwa pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan di SMA Negeri 2 Metro siswa yang menjawab benar ada 62,1% dan yang menjawab salah ada 37,9%. Termasuk dalam kategori cukup, dengan kemampuan menjawab pertanyaan 62,1% yang diperoleh dengan cara, jumlah jawaban benar (323) dibagi dengan jumlah seluruh soal (520) di kali dengan 100%.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini :











Gambar 4. Diagram Kategori Distribusi Pengetahuan Responden Menurut Item Pertanyaan Mengenai Bahaya Rokok Terhadap Kesehatan






Tabel 6. Distribusi Pengetahuan Menurut Item Pertanyaan Tentang Bahaya Rokok di SM Negeri 2 Metro

No Pertanyaan Jawaban
B % S %
1 Rokok adalah suatu zat adiktif yang dapat menimbulkan rasa ketagihan 35 61,5 17 38,5
2 Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok 30 57,6 22 42,4
3 Bila anda merokok asap rokok yang anda hembuskan
itu merupakan polusi udara bagi orang yang ada
disekitar anda 49 94 3 6
4 Bila seseorang yang ada didekatmu bukan seorang
perokok tetapi dia ikut menghisap asap rokok yang
kamu hembuskan disebut dengan perokok pasif. 40 77 12 23
5 Bahan-bahan yang terdapat di dalam rokok seperti tar, nikotin, dan lain-lain tidak berbahaya bagi kesehatan 36 69 16 21
6 Salah satu kandungan rokok yaitu karbon monoksida dapat mengikat diri dengan sel darah merah dan
mengakibatkan penyem itan embuluh darah. 30 58 22 42
7 Nikotin dalam rokok tidak menyebabkan ketagihan
pada si perokok 37 71 15 29
8 Rokok banyak mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi kesehatan 50 96 2 4
9 Bila anda merokok, asap rokok yang anda hembuskan
tidak mencemari udara orang-orang yang ada di
sekitar anda 48 92 4 8
10 Nikotin dalam rokok berbahaya untuk kesehatan dan
dapat menyebabkan rasa ketagihan 47 90 5 10
11 Penyakit yang timbul dari akibat merokok salah satunya kanker paru. 48 92 4 8
12 Merokok tidak begitu berbahaya bagi kesehatan 45 86 7 14
13 Rokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan
kanker paru 40 77 12 23
14 Tidak ada hubungan yang berarti antara merokok
dengan kesehatan si perokok. 38 73 14 27
15 Rokok tidak mengandung racun yang tidak
membahayakan tubuh 35 67 17 23
16 Biaya yang dikeluarkan untuk merokok lebih besar
di banding yang tidak merokok
40 77 12 21
17 Rokok dapat mempengaruhi penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah. 36 69 16 21
18 Tidak ada enyakit yang disebabkan oleh rokok 44 85 8 15
19 Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok,
tidak mengganggu beban ekonomi seorang perokok 43 83 9 17
20 Beban ekonomi antara seorang perokok dengan
seorang yang tidak merokok tidak ada bedanya. 45 86 7 14
21 Bahaya rokok terhadap kesehatan salah satunya adalah
pengaruh rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut. 36 69 I 16 21
22 Tidak ada keuntungan bagi yang tidak merokok 35 67 17 23
23 Kebiasaan merokok tidak dapat dihentikan 25 48 27 42
24 Rokok dapat menimbulkan karang gigi yang tidak bisa
dibersihkan 34 65 18 35
25 Merokok dapat menyebabkan impotensi (lemah syahwat), menurunnya kekebalan individu dan kanker 48 92 4 8
26 Penyumbatan pembuluh darah ke otak yang bersifat
mendadak atau stroke pada seorang perokok tidak ada kaitannya dengan rokok 30 58 22 42
27 Seorang yang tidak merokok, kecil kemungkinan terkena kanker paru- paru di bandingkan dengan yang merokok 29 56 23 44
28 Banyak cara yang dapat digunakan untuk berhenti
merokok 33 63 19 37
29 Rokok tidak berpengaruh terha.dap kesehatan gigi dan
mulut 32 61 20 29
30 Antara seorang perokok dengan seorang yang tidak
merokok sama kemungkinannya untuk terkena kanker
paru-paru. 21 40 31 60
Jumlah 1139 73 421 27


Secara keseluruhan rata-rata pengetahuan siswa SMA Negeri 2 Metro mengenai bahaya rokok termasuk dalam kategoi cukup dengan kemampuan menjawab pertanyaan 73% yang diperoleh dengan cara menjumlahkan jawaban yang benar (1139) dibagi dengan jumlah seluruh soal (1560) dikalikan dengan 100%.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram di bawah ini:










Gambar 5. Diagram Kategori Distribusi Pengetahuan Responden Mengenai Bahaya Rokok Menurut Ketiga Item yang diamati (Pengertian Rokok, Bahaya Rokok Terhadap Kesehatan dan Kandungan Zat-zat yang Berbahaya dalam rokok)




C. Pembahasan
Setiap orang yang merokok akan sangat membahayakan kesehatan, baik bagi kesehatan dirinya sendiri maupun orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Zat-zat yang terkandung dalam rokok membahayakan kesehatan. Zat-zat tersebut dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti : jantung, kariker paru-paru, esopagus, laring, kelainan rongga mulut, impotensi, bagi ibu hamil akan membahayakan janirtilya, dan menjadi pencetus mtidahnya terkena AIDS.
Oleh sebab itu setiap orang harus mempunyai pengetahuan tentang bahaya rokok. Dengan demikian akan dapat menghindari penggunaan rokok, bahkan bagi pengguna rokok akan dapat menghindari dan berhenti untuk merokok. Agar kita dapat menciptakari lingkungan yang bersih dan sehat.
Menurut Notoatmodjo (2003), "pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang ciri materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden." Pada per.elitian ini ditanyakan hal-hal tentang pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok yang terdiri dari 3 sub variabel dan 30 pertanyaan.
Di bawah ini akan dibahas tentang hasil penelitian tersebut berdasarkan persub variabel :
1. Pengetahuan siswa mengenai pengertian rokok
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan siswa mengenai pengertian rokok termasuk dalam kategori baik dengan persentase pertanyaan yang dijawab benar yaitu 77,3%. Hal ini dimungkinkan karena sudah banyak informasi tentang rokok, sehingga dapat diasumsikan bahwa responden memperoleh pengetahuan mengenai pengertian rokok dari informasi yang disampaikan oleh media massa misalnya dari televisi, koran, majalah, kebiasaan orang lain dan pengalaman. Ada pendapat yang menyatakan bahwa merokok merupakan sebuah kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampalc buruk bagi si perokok itu senditi (Soetjiningsih dalam Subanda B, 2004). Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatinodjo (2002), pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Pengalaman itu diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun pengalaman orang lain.
Pernyataan lain Notoatmodjo (2003), "pengetahuan adalah merupqkan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatalh, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagitin besar pengetehuari manusia diperoleh melalui rriata dan telinga.
Berdasarkarl pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan siswa diperoleh dari infofmasi yang disampaikan oleh media massa seperti televisi, koi'An, majalah, atau bisa juga dari kebiasaan orang lain dan pengalaman sendiri. Sehingga dapat digunakan sebagai bekal yang baik bagi siswa untuk dapat merljaga dan memelihara kesehatan.


2. Pengetahuan siswa mengenai kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan siswa mengenai kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok termasuk dalam kategori baik dengan persentase pertanyaan yang dijawab benar yaitu 79,6 %. Hal ini dimungkinkan karena sudah banyak informasi mengenai kandungan dan zat-zat yang berbahaya dalam rokok yang disampaikan melalui media massa seperti televisi, koran, majalah dan tabloid. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003), "pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Responden juga dapat memperoleh pengetahuan dari pengalaman seseorang, tetapi dimungkinkan mereka kurang menyadari bahwa sebenarnya rokok itu mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan baik diri sendiri maupun orang lain, sehingga siswa sudah berani mengkonsumsi rokok diusianya yang masih muda. Banyak zat yang berbahaya dari asap rokok, tetapi ada 3 (tiga) bahan pokok yang paling berbahaya adalah karbon monoksida, tar dan nikotin. Dimana karbon monoksida dapat menurunkan secara langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh (www.kompas.com, 2003). Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru (www.republikonline.com, 2003). Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi saraf dan peredaran darah yang bersifat karsinogen (www.republikonline.com, 2003).
Berdasarkan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa kandungan dalam rokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Sekarang sudah banyak media massa yang menginformasikan tentang kandungan rokok dan bahayanya. Sehingga siswa lebih mudah mendapatkan informasinya. Mereka juga dapat memperoleh pengetahuan dari pengalaman, baik pengalaman diri sendiri atau orang lain.

3. Pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok terhadap kesehatan termasuk dalam kategori cukup dengan persentase pertanyaan yang dijawab benar yaitu 62,2%. Hal ini disebabkn karena informasi tentang bahaya rokok terhadap kesehatan sudah sangat banyak. Tetapi dimungkinkan para siswa kurang memahami betapa rokok sangat berbahaya dan merugikan kesehatan, sehingga sudah banyak yang mengkonsumsi rokok diusia muda. Sebenarnya bahaya rokok sangat banyak seperti kanker paru, bronkhitis, penyakti jantung dan pembuluh darah. Rokok merupakan faktor resiko pertama dan tertinggi bagi serangan jsntung, selain itu juga rokok dapat tnenimbulkan kelainan-kelainan pada rongga mulut misalnya, pada lidah, gusi, mukosa mulut, gigi dan langit-langit. (www.depkes.ri.com, 2004).
Informasi tentang bahaya rokok sudah banyak disampaikan oleh media massa misalnya televisi, koran, majalah dan tabloid. Hal ini sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003), "pengetahuan adalah metupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahun manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Secara keseluruhan hasil penelitian mengenai bahaya rokok menunjukan bahwa rata-rata pengetahuan siswa kelas II SMA Negeri 2 Metro termasuk dalam kategori Cukup, yaitu 73% dan 27% siswa termasuk dalam kategori kurang sekali. Hal ini merupakan bekal yang baik bagi mereka untuk menjaga kesehatan diri mereka sendiri dan juga lingkungan sekitar mereka dengan tidak merokok. Karena bahaya rokok terhadap kesehatan sangat banyak dan fatal akibatnya, sehingga dengan tidak merokok dapat menjauhkan diri dari penyakit yang disebabkan oleh rokok dan dapat menciptakan suasana lingkungan yang bersih serta bermanfaat untuk peningkatan kualitas hidup pada usia yang akan datang. Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003), "bahwa prilaku yang didasari dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif akan lebih langgeng dari pada prilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.










BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis tentang pengetahuan siswa kelas II SMA Negeri 2 Metro mengenai bahaya rokok dapat penulis simpulkan bahwa :
1. Pengetahuan siswa mengenai pengertian rokok termasuk dalam kategori baik yaitu 77,3%
2. Pengetahuan siswa mengenai kandungan zat-zat yang berbahaya dalam rokok termasuk dalam kategori baik yaitu 79,6%.
3. Pengetahuan siswa mengenai bahaya rokok, terhadap kesehatan termasuk dalam kategori cukup yaitu 62,2%.
4. Berdasarkan data di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa secara keseluruhan rata-rata pengetahuan siswa kelas II mengenai bahaya rokok termasuk dalam kategori Cukup (73%), sehingga hal ini merupakan bekal yang baik bagi mereka dalam memelihara kesehatan, baik kesehatan individu, orang lain dan lingkungan sekitarnya.



B. Saran
Adapun saran-saran dalam hal ini :
1. Bagi Institusi Program Studi Kebidanan Wira Buana Metro
Diharapkan dapat memperbanyak literatur (sumber bacaan) di perpustakaan terutama yang berhubungan dengan bahaya rokok.
2. Bagi siswa
Diharapkan agar siswa bisa menyaring dan memilah-milah informasi yang didapatkan dalam bentuk apapun yang memang pantas untuk diikuti serta diharapkan lebih bisa memikirkan akibat lanjut yang akan terjadi bila merokok di usia dini. Juga agar siswa mau menjaga kesehatan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya dengan tidak merokok.
3. Bagi institusi SMA Negeri 2 Metro
Diharapkan agar institusi SMA Negeri 2 Metro dapat mengadakan penyuluhan kepada para siswa atau dapat juga mengadakan extrakulikuler yang membahas tentang bahaya rokok. Agar siswa dapat menambah pengetahuannya tentang bahaya rokok dan dapat menghindari rokok.

DAFTAR PUSTAKA

Aids Warta Tim, 2001. Pedoman Mengurangi Dampak Buruk Narkoba di Asia, 22 Maret 2006. www.google.tim.warta aids.com.

Arikunto S., 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Bina Aksara, Jakarta.

Departemen Kesehatan RL, 1992. Pedoman Pelatihan Generasi Muda Dalam Pembangunan Kesehatan, Jakarta.

Departemen Agama RL, 2002. Alquran dan Terjemahan, PT. AL-MA'ARIF, Bandung.

Hawari D., 2001. Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif, Jakarta.

Majalah Bina Pendidikan Tenaga Kesehatan, Edisi 42, 2001. Pendidikan Kesehatan Kini dan Masa Depan, Pusat Pendidikan Kesehatan, Jakarta.

Mulyawati Yeni, Drg. 2004. Pengaruh Rokok, 22 Maret 2006, www.google. depkes.ri.com.

Notoatmodjo S., 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

_____________, 2003. Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta. ,

_____________, 2003. Pendidikan dan Ilmu Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Soetjiningsih, 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya, Jakarta.

Sugiyono, 2002. Statistika Untuk Penelitian, CV. Alfabeta, Bandung.

Suharjo, 2003. Republika, 22 Maret 2006, www.google.republikonline.com.

Tandra Hans, 2003, Rokok dan Kesehatan, 19 April, www. google.kompas. com.

Sugeng D.Triswanto,2007,Stop Smoking


KUESIONER
PENGETAHUAN SISWA KELAS II SMA N 2 METRO
MENGENAI BAHAYA ROKOK
TAHUN 2008

I. IDENTITAS RESPONDEN
Nama :
Umur :
Alamat :
II. PETUNJUK PENGISIAN
Jawablah pertanyaan yang ada dalam kuesioner ini dengan cara memberikan tanda silang (4) pada jawaban yang Anda pilih!
No Pertanyaan Jawaban
B % S %
1 Rokok adalah suatu zat adiktif yang dapat menimbulkan rasa ketagihan
2 Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok
3 Bila anda merokok asap rokok yang anda hembuskan
itu merupakan polusi udara bagi orang yang ada
disekitar anda
4 Bila seseorang yang ada didekatmu bukan seorang
perokok tetapi dia ikut menghisap asap rokok yang
kamu hembuskan disebut dengan perokok pasif.
5 Bahan-bahan yang terdapat di dalam rokok seperti tar, nikotin, dan lain-lain tidak berbahaya bagi kesehatan
6 Salah satu kandungan rokok yaitu karbon monoksida dapat mengikat diri dengan sel darah merah dan
mengakibatkan penyem itan embuluh darah.
7 Nikotin dalam rokok tidak menyebabkan ketagihan
pada si perokok
8 Rokok banyak mengandung bahan-bahan yang
berbahaya bagi kesehatan
9 Bila anda merokok, asap rokok yang anda hembuskan
tidak mencemari udara orang-orang yang ada di
sekitar anda
10 Nikotin dalam rokok berbahaya untuk kesehatan dan
dapat menyebabkan rasa ketagihan
11 Penyakit yang timbul dari akibat merokok salah satunya kanker paru.
12 Merokok tidak begitu berbahaya bagi kesehatan
13 Rokok dapat menyebabkan penyakit jantung dan
kanker paru
14 Tidak ada hubungan yang berarti antara merokok
dengan kesehatan si perokok.
15 Rokok tidak mengandung racun yang tidak
membahayakan tubuh
16 Biaya yang dikeluarkan untuk merokok lebih besar
di banding yang tidak merokok
17 Rokok dapat mempengaruhi penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah.
18 Tidak ada enyakit yang disebabkan oleh rokok
19 Penyakit-penyakit yang timbul akibat merokok,
tidak mengganggu beban ekonomi seorang perokok
20 Beban ekonomi antara seorang perokok dengan
seorang yang tidak merokok tidak ada bedanya.
21 Bahaya rokok terhadap kesehatan salah satunya adalah
pengaruh rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut.
22 Tidak ada keuntungan bagi yang tidak merokok
23 Kebiasaan merokok tidak dapat dihentikan
24 Rokok dapat menimbulkan karang gigi yang tidak bisa
dibersihkan
25 Merokok dapat menyebabkan impotensi (lemah syahwat), menurunnya kekebalan individu dan kanker
26 Penyumbatan pembuluh darah ke otak yang bersifat
mendadak atau stroke pada seorang perokok tidak ada kaitannya dengan rokok
27 Seorang yang tidak merokok, kecil kemungkinan terkena kanker paru- paru di bandingkan dengan yang merokok
28 Banyak cara yang dapat digunakan untuk berhenti
merokok
29 Rokok tidak berpengaruh terha.dap kesehatan gigi dan
mulut
30 Antara seorang perokok dengan seorang yang tidak
merokok sama kemungkinannya untuk terkena kanker
paru-paru.
KUNCI JAWABAN

1. B
2. B
3. B
4. B
5. S
6. B
7. S
8. B
9. S10. B 11. B
12. S
13. B
14. S
15. S
16. B
17. B
18. S19. S20. S 21. B
22. S
23. S
24. B
25. B
26. S
27. B
28. B29. S30. S