Rabu, 28 April 2010

pengetahuan remaja putri tentang seks sekunder di SMP


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dilihat dari segi penduduk 73,4% sebagian penduduk di dunia adalah remaja. Indonesia menempati urutan nomor 5 di dunia dalam hal jumlah penduduk, dengan remaja sebagai bagian dari penduduk yang ada. Propinsi Lampung pada tahun 2000 dihuni oleh 6,654 juta jiwa dengan jumlah remaja usia 10-15 tahun sebanyak 652.322 jiwa (http://www.bkkn.go.id).
Sejak tahun 2000, pemerintah mencanangkan suatu program yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja yang sasarannya adalah siswa SLTP, SLTA dan Remaja Karang Taruna. Pelaksanaan program ini secara lintas sektoral instansi pemerintah dan swasta dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan remaja tentang kesehatan reproduksi dan penyakit menular seksual (Llywellyn-Jones, 1997).
Masa remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan manusia yang sering disebut sebagai masa pubertas yaitu masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Pada tahap ini remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Tetapi umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat dari proses pematangan kejiwaan (psikososial).


Masa permulaan pubertas pada anak perempuan biasanya terjadi antara usia 10 sampai 14 tetapi bisa lebih awal (pubertas dini) atau terlambat, tergantung dengan faktor-faktor genetik individu. Masa pubertas berlangsung selama kira-kira lima tahun dan sebagaimana terjadi pada anak laki-laki, diawali dengan pelepasan hormon-hormon dari kelenjar pituitary yang kemudian bertindak secara langsung pada organ-organ seksual. Kejadian yang paling dramatis bagi para anak perempuan adalah masa awal menstruasi (menarche) sebagai respon untuk produksi dan pelepasan hormon-hormon perempuan tersebut, estrogen dan progesteron. Indung telur matang dan mulai melepaskan telur-telur dan uterus membesar, bersamaan dengan perkembangan dan kedewasaan organ-organ kemaluan. Masa pertumbuhan yang cepat yang menghasilkan tinggi dan berat menyertai perubahan-perubahan tersebut. Kedua pinggul melebar dan pola pendistribusian lemak berubah untuk memproduksi bentuk tubuh perempuan yang karakteristik. Juga karakteristik-karakteristik seksual sekunder berkembang sebagai kelanjutan-kelanjutan pubertas, terutama pembesaran kedua payudara, pertumbuhan bulu-bulu kelamin dan ketiak serta perkembangan kelenjar-kelenjar keringat.
Dari pengamatan saat melakukan prasurvei diperoleh data siswa perempuan yang berumur 12-15 tahun di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah berjumlah 89 siswi yang terdiri dari kelas satu terdapat 26 siswi, kelas dua terdapat 33 siswi dan kelas tiga terdapat 30 siswi.
Dalam pelaksanaan prasurvei, penulis mengambil sampel sebanyak 22% dari seluruh jumlah populasi yang akan diteliti yaitu sebanyak 21 orang siswi yang terbagi atas 7 siswi kelas 1, 7 siswi kelas 2 dan 7 siswi kelas 3.
Dan setelah diajukan beberapa pertanyaan pre survey kepada 21 orang siswi tersebut, diperoleh hasil bahwa enam orang diantaranya kelas 1 belum mengetahui mengenai seks sekunder, untuk siswi kelas 2, lima orang belum mengetahui tentang seks sekunder dan untuk siswi kelas 3, empat orang belum mengetahui tentang seks sekunder. Berdasarkan pengamatan pula didapatkan alasan mengaa
Berdasarkan hasil prasurvei tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Bagaimana Pengetahuan Remaja Putri Masa Pubertas tentang Seks Sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: ”Bagaimana pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah?”

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis Penelitian : Deskriptif
Subjek Penelitian : Remaja putri di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Objek Penelitian : Pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder.
Lokasi Penelitian : SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Waktu : bulan Mei 2008

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan informasi bagi sekolah mengenai pengetahuan remaja putri masa pubertas seks sekunder, sehingga pihak sekolah dapat memasukkan materi mengenai seks sekunder dalam mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
2. Bagi Institusi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dan bahan bacaan di perpustakaan.



3. Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi pengalaman bagi penulis dalam melakukan sebuah penelitian, dapat memberikan masukan mengenai hal-hal apa saja yang akan diteliti untuk peneliti lain yang meneliti mengenai seks sekunder.
4. Bagi Responden
Agar remaja putri di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah mendapat tambahan pengetahuan tentang pubertas khususnya tentang seks sekunder.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Telaah Pustaka
1. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar penginderaan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Penelitian Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoadmodjo (2005) menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati 5 tahap yaitu awarenest (kesadaran), interest (tertarik pada stimulus), evaluation (mengevaluasi atau menimbang baik tidaknya stimulus) dan trial (mencoba) serta adoption (subjek telah berprilaku baru). Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak didasari oleh pengetahuan, dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

Menurut Soekidjo Notoadmodjo, pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang tercakup dalam domain kognitif yaitu :
1) Tahu (know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu (know) ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah faham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.


4) Analisis (analysis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya.
2. Remaja
a. Pengertian
Remaja merupakan usia muda atau mulai dewasa (Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Ahmad & Santoso, 1996). Remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat (www.bkkbn.go.id, 2005).
Remaja adalah usia transisi, seorang individu telah meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya maupun masyarakat. Semakin maju masyarakat semakin panjang usia remaja karena ia harus mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dirinya dengan masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya.
Remaja dalam mengalami perubahan-perubahannya akan melewati perubahan fisik, perubahan emosi dan perubahan sosial. Yang dimaksud dengan perubahan fisik adalah pada masa puber berakhir, pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna dan akan sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja.
Perubahan emosi pada masa remaja terlihat dari ketegangan emosi dan tekanan, tetapi remaja mengalami kestabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Sedangkan perubahan sosial pada masa remaja merupakan salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit, yaitu berhubungan dengan penyesuaian sosial pada perubahan sosial ini, remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah.
Ciri remaja pada anak wanita biasanya ditandai dengan tubuh yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja memasuki usia antara 9-15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau keturunan. Perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi pada anak perempuan. Datangnya menstruasi pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut salah satunya adalah karena gizi. Saat ini ada seorang anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya adalah sekitar 12 tahun. Remaja perempuan, sebelum menstruasi akan menjadi sangat sensitif, emosional, dan khawatir tanpa alasan yang jelas (www.bkkbn.go.id.2005).

Pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja lebih konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan 3 kriteria yaitu biologis, psikologis dan sasial ekonomi. Remaja adalah suatu masa dimana:
1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.
2) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
3) Terjadi peralihan ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada yang relatif mandiri.

Ditinjau dari kesehatan WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Selanjutnya WHO menyatakan walaupun definisi di atas didasarkan pada usia kesuburan wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria dan WHO membagi kurun usia tersebut dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Sementara itu definisi remaja untuk masyarakat Indonesia adalah menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah dengan pertimbangan sebagai berikut:
1) Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai tampak (kriteria fisik).
2) Dibanyak masyarakat indonesia; usia dianggap akil-balik, baik menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak, lagi memperlakukan mereka sebagai anak¬-anak (kriteria sosial).
3) Pada usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan, jiwa seperti tercapainya identitas diri (ego identity), tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral (kriteria psikologis).
4) Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimal yaitu untuk memberi peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua.
5) Dalam definisi di atas, status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat kita secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah, pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai. orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun kehidupan bermasyarakat dan keluarga. Karena itu definisi Remaja disini dibatasi khusus untuk yang belum menikah (Sarwono,2000).

b. Perkembangan Remaja
Masa remaja ditandai dengan terjadinya berbagai proses perkembangan yang secara global meliputi perkembangan jasmani dan rohani. Perkembangan jasmani terlihat dari perubahan-perubahan bentuk tubuh dari kecil menjadi besar sedangkan rohani tampak dari emosi, sikap dan juga intelektual.
Perkembangan yang dialami remaja adalah :
1) Perkembangan fisik: perkembangan fisik pada masa remaja mengarah pada pencapaian bentuk-bentuk badan orang dewasa. Perkembangan fisik terlihat jelas dari perubahan tinggi badan, bentuk badan dan berkembangnya otot-otot tubuh.
2) Perkembangan Seksual. Perkembangan seksual ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin primer dan sekunder:
3) Perkembangan heteroseksual. Pada masa remaja mulai timbul rasa ketertarikan terhadap lawan jenis.
4) Perkembangan emasional. Keadaan emosional pada masa remaja tidak stabil.
5) Perkembangan Kognisi:
6) Perkembangan identitas diri: Proses pembentukan identitas diri telah dimulai sejak kanak-kanak dan mencapai puncaknya pada masa remaja. Secara umum identitas diri adalah perasaan individualitas yang mantap dimana individu tidak tenggelam dalam peran sosial yang dimainkan tetapi tetap dihayati sebagai pribadi diri sendiri (http:/www.usu_respiratory, 2007).



3. Pubertas
a. Pengertian
Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada perempuan pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini, dikenal adanya pubertas dini pada remaja. Penyebab pubertas dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam mengatur perkembangan seks wanita. (http:/www.wikipedia_indonesia.com).

b. Ciri Pubertas
Seorang anak akan menunjukkan tanda-tanda awal dari pubertas, seperti suara yang mulai berubah, tumbuhnya rambut-rambut pada daerah tertentu dan payudara membesar untuk seorang gadis. Untuk seorang anak perempuan, tanda-tanda itu biasanya muncul pada usia 10 tahun ke atas dan pada anak laki-laki, biasanya lebih lambat, yaitu pada usia 11 tahun ke atas. Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan seks (http:/www.wikipedia_indonesia.com).

c. Penyebab Munculnya Pubertas
Penyebab munculnya pubertas ini adalah hormon yang dipengaruhi oleh hipofisis (pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh). Berkat kerja hormon ini, remaja memasuki masa pubertas sehingga mulai muncul ciri-ciri kelamin sekunder yang dapat membedakan antara perempaun dan laki-laki. Dengan kata lain, pubertas terjadi karena tubuh mulai memproduksi hormon-hormon seks sehingga alat reproduksi kita telah berfungsi dan tubuh kita mengalami perubahan.
Hormon seks yang mempengaruhi perempuan adalah estrogen dan progesteron yang diproduksi di indung telur, sedangkan pada laki-laki diproduksi oleh testis dan dinamakan testosteron. Hormon-hormon tersebut ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh kita sehingga terjadilah beberapa pertumbuhan organ seks (http:/www.wikipedia_indonesia.com).
Sehubungan dengan masalah seksual, ada beberapa ciri utama dari masa pubertas yaitu:
1) Ciri Primer
Yaitu matangnya organ seksual yang ditandai dengan adanya menstruasi (menarche) pertama pada anak perempuan dan produksi cairan sperma pertama pada anak laki-laki.



2) Ciri Sekunder
Meliputi perubahan pada bentuk tubuh pada perempuan dan laki-laki. Anak wanita mulai tumbuh buah dada, panggul membesar, paha membesar dan tumbuh bulu-bulu pada alat kelamin. Pada laki-laki terjadi perubahan otot, bahu melebar, suara mulai berubah, tumbuh bulu-bulu pada alat kelamin dan ketiak serta kumis pada bibir.
3) Ciri tertier
Ciri-ciri yang tampak pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu erat juga sangkut pautnya dengan perubahan psikis, yaitu perubahan tingkah laku yang tampak seperti perubahan minat. Anak perempuan mulai sering memperhatikan dirinya. Perubahan lain tampak juga pada emosi, pandangan hidup, si¬kap dan sebagainya

d. Ciri-ciri Seks Sekunder pada Perempuan
1) Pinggul
Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit.
2) Payudara
Segera setelah pinggul mulai membesar, payu¬dara juga berkembang. Puting susu membesar dan menonjol, dan dengan berkembangnya kelenjar susu, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.


3) Rambut
Rambut kemaluan timbul setelah pinggul dan payudara mulai berkembang. Bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah mulai tampak setelah haid. Semua rambut kecuali rambut wajah mu¬la-mula lurus dan terang warnanya, kemudian menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting.
4) Kulit
Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pu¬cat dan lubang pori-pori bertambah besar.
5) Kelenjar
Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi .lebih aktif. Sumbatan kelenjar lemak dapat menyebabkan jerawat. Kelenjar keringat di ketiak mengeluarkan banyak keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa haid.
6) Otot
Otot semakin besar dan semakin kuat terutama pada pertengahan dan menjelang akhir,masa puber, sehingga memberikan bentuk pada bahu, lengan dan tungkai kaki.
7) Suara
Suara menjadi lebih penuh dan lebih semakin merdu. Suara serak dan suara yang pecah jarang. terjadi pada anak perempuan.


B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau teori dalam bentuk kerangka yang mengacu pada masalah-masalah (bagian-bagian) yang akan diteliti atau berhubungan dengan penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat, 2007). Masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini adalah pengetahuan remaja putri siswa SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tentang Seks Sekunder.
Untuk lebih jelasnya, kerangka konsep digambarkan sebagai berikut:





Gambar 1. Kerangka Konsep

C. Definisi Operasional
Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas (Hidayat, 2007).

Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Hidayat, 2007). Adapun dalam penelitian ini variabel yang akan didefinisikan secara operasional dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 1. Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Kriteria Nilai
1 Pengetahuan
Seks Sekunder
Meliputi : a. Perubahan pada pinggul
Pinggul menjadi bertambah lebar dan bulat sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit Angket Kuisioner Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik 76-100%
51-75%
26-55%
0-25% Interval
b. Perubahan pada payudara
Puting susu membesar dan menonjol, dan dengan berkembang-nya kelenjar susu, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.
c. Perubahan pada pertumbuhan rambut
Rambut kemaluan timbul, bulu ketiak dan bulu pada kulit wajah mulai tampak setelah haid, menjadi lebih subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting.
d. Perubahan pada kulit
Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal, agak pu¬cat dan lubang pori-pori bertambah besar
e. Perubahan pada produksi kelenjar
Kelenjar lemak dan kelenjar keringat menjadi .lebih aktif
Kelenjar keringat di ketiak mengeluarkan banyak keringat dan baunya menusuk sebelum dan selama masa haid
f. Perubahan pada otot
Otot semakin besar dan semakin kuat terutama pada pertengahan dan menjelang akhir,masa puber
g. Perubahan pada suara
Suara menjadi lebih penuh dan lebih semakin merdu
2 Remaja Putri Wanita yang berada pada masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa













BAB III
METODELOGI PENELITIAN




A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan rancangan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan masalah-masalah yang terjadi berdasarkan karakteristik tempat, waktu, umur, jenis kelamin, sosial, ekonomi, pekerjaan, status perkawinan, cara hidup dan lain-lain (Hidayat, 2007).
Dengan demikian penelitian ini berusaha untuk menggambarkan pengetahuan masa pubertas remaja putri tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.

B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Menurut Notoatmodjo (2002), populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi yang diamati peneliti dalam penelitian ini adalah remaja putri (umur 12-15 tahun) di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 89 orang.




2. Sampel
Menurut Notoatmodjo (2002), sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili keseluruhan populasi. Apabila objeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, jika jumlah objeknya besar maka diambil antara 10-15% atau 20-25% (Arikunto, 2006).
Melihat pada pendapat di atas maka penelitian ini, sampel yang peneliti gunakan adalah 100% dari jumlah populasi sebanyak 89 orang remaja putri di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.

C. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2008

2. Tempat Penelitian
Penulis mengambil lokasi penelitian di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.

D. Instrumen Penelitian
Untuk dapat mengukur variabel penelitian ini, penulis menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2002) bahwa yang dimaksud dengan instrumen adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, instrumen ini dapat berupa question (pertanyaan), formulir observasi, formulir lain-lain yang berkaitan dengan penataan data dan lain-lain.
Pada penelitian ini instrumen penelitiannya adalah angket, dimana pertanyaan disiapkan sehingga responden tinggal menjawab pertanyaan yang mencakup variabel-variabel yang ada dalam penelitian.

E. Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pengetahuan masa pubertas remaja putri tentang seks sekunder, sedangkan subvariabelnya adalah ciri seks sekunder yang meliputi perubahan pada panggul, payudara, rambut, kulit, kelenjar, otot dam suara.
Pengukuran variabel dengan cara ukur angket, alat ukur kuisioner, dimana pertanyaan disiapkan sehingga responden tinggal menjawab pertanyaan yang sudah mencakup variabel-variabel yang ada dalam penelitian (Notoatmodjo, 2002).

F. Analisis Data
Penelitian ini akan menggambarkan pengetahuan masa pubertas remaja putri tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah. Setelah data terkumpul melalui kuisioner maka data akan melalui beberapa tahapan yaitu:
a. Seleksi data (Editing)
Dimana penulis akan melakukan penelitian terhadap data yang diperoleh dan diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam penelitian.
b. Pemberian kode (Coding)
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data.
c. Pengelompokkan data (Tabulating)
Pada tahap ini, jawaban jawaban responden yang sama dikelompokkan dengan teliti dan teratur lalu dihitung dan dijumlahkan, kemudian dituliskan dalam bentuk tabel-tabel.

2. Analisa Data
Teknik analisa. data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat yaitu untuk mengetahui distribusi frekuensi dari sub variabel yang diteliti sehingga dapat diketahui tingkat gambaran dari setiap sub variabel. Untuk menghitung sebaran persentase dari frekuensi digunakan rumus sebagai berikut:




Keterangan :
P : Persentase
f : frekuensi
N : Jumlah subjek
100 : Bilangan Tetap (Budiarto, 2005).


Untuk pengelompokkan kategori penelitian penulis membagi tingkat pengetahuan menjadi empat kelompok yaitu : dalam kategori baik, cukup, kurang baik dan tidak baik. Berdasarkan pendapat Budiarto (2005: 36) yang menyatakan bahwa: “sebaiknya distribusi frekuensi mempunyai interval yang sama” dan pembagian pertanyaan untuk tiap sub variabel yang diteliti pada kuisioner adalah sama, maka nilai persentase untuk tiap tingkat pengetahuan dapat dihitung sebagai berikut:
1. Kategori baik, jika 76-100% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden.
2. Kategori Cukup, jika 51-75% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden.
3. Kategori Kurang, jika 26-50% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden.
4. Kategori Tidak baik, jika 0-25% pertanyaan yang dijawab benar oleh responden.








BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Profil Lokasi Penelitian
1. Lokasi SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu
SMP Bina Bhakti Banjar beralamatkan di Jl. SDN 3 No. 10 Kelurahan Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah, diatas tanah berukuran 11.200 m2 dan status tanah milik Yayasan Pendidikan Bina Bhakti.

2. Sejarah Berdirinya SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah
SMP Bina Bhakti Banjar didirikan pada tahun 1982 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Bina Bhakti dengan data fasilitas sekolah yaitu:
a. Jumlah ruang kelas : 7 ruang
b. Jumlah Ruang Perpustakaan : 1 ruang
c. Jumlah Ruang Kepala Sekolah : 1 ruang
d. Jumlah Ruang Guru : 1 ruang
e. Jumlah Ruang Tata Usaha : 1 ruang
f. Jumlah Ruang BP/BK : 1 ruang
g. Jumlah Ruang Komputer : 1 ruang
h. Jumlah Ruang Ibadah : 1 ruang
i. Jumlah KM/WC Guru : 2 ruang
j. Jumlah KM/WC Siswa : 4 ruang
k. Jumlah Gudang : 1 ruang


3. Ketenagaan SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah

Gambaran mengenai data ketenagaan di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah terdiri dari :
a. Kepala Sekolah : 1 orang
b. Wakil Kepala Sekolah : 1 orang
c. Guru : 12 orang
d. BP : 1 orang
e. Tata Usaha : 4 orang

Jumlah Siswa SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah
a. Kelas I : 56 siswa
b. Kelas II : 71 siswa
c. Kelas III : 53 siswa

4. Pelaksanaan Penelitian
a. Persiapan
1) Melakukan prasurvey di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
2) Menyusun usulan penelitian dan mengajukan usulan tersebut melalui seminar.
3) Perbaikan usulan penelitian dan konsultasi mengenai kerangka kuisioner.

b. Pelaksanaan
1) Menyerahkan surat izin penelitian kepada Kepala SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
2) Melaksanakan Penelitian secara langsung atau pengumpulan data dengan pembagian kuisioner untuk diisi kepada responden yang ada di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 20 Mei 2006.
3) Memproses dan menganalisa data jawaban kuisioner yang telah terkumpul.
4) Menarik kesimpulan.
5) Menulis laporan hasil penelitian.

B. Hasil Penelitian
Hasil penelitian mengenai pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah diperoleh melalui kuisioner yang berisikan 20 pertanyaan mengenai pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder yang diberikan kepada 89 responden remaja putri kelas I sampai dengan kelas III yang berumur 12-15 tahun di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah.
Setelah kuesioner yang terdiri dari 20 pertanyaan disebarkan kepada responden yang berjumlah 89 remaja putri, maka didapatkan hasil jawaban pada masing-masing item pertanyaan. Seluruh jawaban tersebut kemudian dikumpulkan dan diolah, sehingga didapat data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi (lampiran 1) yang menggambarkan pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008.
Adapun hasil penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008

No Variabel Σ Nilai Σ Responden Kategori
1 Pengetahuan Seks Sekunder 75-100
51-45
26-50
0-25 50
26
11
2 Baik
Cukup
Kurang
Tidak baik
Jumlah 89

Berdasarkan tabel dari data diatas diketahui bahwa ada 50 responden yang mendapatkan nilai 16-20 dan ada 26 responden yang mendapatkan nilai 11-15 ada 11 responden yang mendapatkan nilai 6-10 dan yang mendapatkan nilai 0-5 ada 2 responden

Tabel 3. Distribusi Frekuensi pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008

No. Kategori  Responden %
1 Baik
Cukup
Kurang
Tidak Baik 50
26
11
2 56,18
29,21
12,36
2,25
Jumlah 89 100

Berdasarkan data pada tabel di atas, maka dapat diagambarkan pada diagram dibawah ini.





Gambar 2. Diagram distribusi frekuensi pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008.



C. PEMBAHASAN
Pengetahuan Remaja Putri Masa Pubertas Tentang Seks Sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan remaja putri masa pubertas tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008 secara umum adalah baik. Hal ini Seks sekunder merupakan hal yang normal yang akan dialami oleh setiap remaja puteri pada masa pubertas (12-15 tahun).
Sesuai dengan pernyataan Notoatmodjo (2003), “Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga”.
Dan juga sesuai dengan pendapat Anwar (2004), “Media massa seperti televise, radio, surat kabar dan majalah mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang”, maka pengetahuan responden tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008 dikategorikan baik dapat dikarenakan oleh banyak faktor diantaranya yaitu banyaknya sumber pengetahuan mengenai seks sekunder seperti dari orang tua, guru di sekolah khususnya guru bidang studi biologi, melalui media massa dan media elektronik (koran, majalah, televisi dan internet) maupun dari teman. Selain itu ada beberapa faktor juga yang mempengaruhi seperti faktor predisposisi, yaitu faktor yang meliputi sikap dan kepercayaan responden mengenai suatu hal yang sangat menentukan mereka dalam memilih sesuatu yang dianggap paling baik juga faktor pendukung seperti lingkungan fisik, fasilitas kesehatan dan sarana kesehatan juga sangat berperan dalam memberikan masukan. Sikap dan perilaku petugas kesehatan atau sebagai faktor pendorong juga memiliki peran yang sangat penting dalam masalah kesehatan.
Keseluruhan faktor tersebut di atas sangat berperan dalam menentukan tingkat pengetahuan responden, karena pengetahuan selain didapatkan melalui pendidikan formal/informal juga bisa dapat melalui lingkungan dan pengalaman.













BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengetahuan remaja puteri masa pubertas umur 12-15 tahun tentang seks sekunder di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah tahun 2008, maka dapat disimpulkan adalah tingkat pengetahuan yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 50 orang (56,18%), kategori cukup sebanyak 26 orang (29,21%), kategori kurang sebanyak 11 orang (12,36%), dan kategori tidak baik sebanyak 2 orang (2,25%).

Saran
2. Bagi Tempat Penelitian
Agar pihak sekolah dapat memasukkan materi mengenai seks sekunder dalam mata pelajaran yang diajarkan di sekolah seperti dalam pelajaran biologi atau melalui kegiatan ekstra kulikuler lain guna memberikan tambahan pengetahuan dan informasi mengenai seks sekunder bagi siswa-siswinya terutama remaja putri dalam masa pubertas serta melakukan pembinaan secara periodic pada siswa tentang pengetahuan kesehatan reproduksi.
5. Bagi AKBID Wira Buana Metro
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi dan bacaan di perpustakaan.

6. Bagi Responden
Agar para remaja putri khususnya remaja putri di SMP Bina Bhakti Banjar Kerta Rahayu Kecamatan Way Pengubuan Kabupaten Lampung Tengah untuk dapat lebih aktif dalam menggali pengetahuan tentang masa pubertas khususnya tentang seks sekunder.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar