Rabu, 28 April 2010

tingkat pengetahuan remaja putri tentang periksa payudara sendiri


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan suatu periode rentan kehidupan manusia yang sangat kritis karena merupakan tahap transisi dari masa kanak-kanak kemasa dewasa. Pada tahap ini sering kali remaja tidak menyadari bahwa suatu tahap perkembangan sudah dimulai, namun yang pasti setiap remaja akan mengalami suatu perubahan baik fisik, emosional maupun sosial (Dianawati, 2003: 25).
Pada masa remaja berlangsung proses-proses perubahan fisik maupun perubahan biologis yang dalam perkembangan selanjutnya berada dibawah kontrol hormon-hormon khusus. Pada wanita, hormon-hormon ini bertanggung jawab atas permulaan proses ovulasi dan menstruasi, juga pertumbuhan payudara. Pada masa ini sudah seharusnya para remaja putri mulai memperhatikan perubahan yang ada pada dirinya, juga halnya dengan payudara dan kesehatanya. Maka tidak aneh jika dikatakan bahwa kitalah orang pertama yang paling mungkin menemukan benjolan pada payudara kita, bagaimanapun juga, kitalah satu-satunya yang paling mengenal tubuh kita. Payudara merupakan estetika kaum wanita dan daya tarik seksual yang utama sejak dahulu kala didalam bermacam-macam masyarakat, payudara wanita merupakan fokus obyek seni. Tetapi dijaman dan kebudayaan beberapa tahun belakangan ini ada sambutan hangat terhadap pemberian ASI dengan segala keuntunganya bagi ibu maupun bayinya. Dengan seluruh aktifitas didalam payudara sehubungan dengan perkembangan dalam kehidupan seorang wanita dan juga perubahan siklus yang biasa disebabkan oleh periode menstruasi teratur, sebaiknya semua wanita bermawas diri terhadap masalah yang mungkin timbul pada payudara mereka, sebaiknya pemeriksaan dapat dimulai dari waktu remaja dan pemeriksaan yang rutin dan teratur untuk mendeteksi tanda-tanda dini persoalan payudara merupakan kebiasaan yang sangat baik yang harus dilakukan sejak dini. Seorang remaja putri dapat memeriksa payudara sendiri (SADARI) pada saat mandi dengan menggunakan jari-jari tangan sehingga dapat menentukan benjolan pada lekukan halus payudaranya. Bagi banyak wanita kejadian sangat mengejutkan pada waktu sebuah benjolan sudah nampak dengan jelas, kemungkinanya adalah bahwa benjolan tersebut adalah kanker, maka seseorang mungkin telah kehilangan waktu yang berharga untuk memulai pengobatan sedini mungkin. Jadi jalan yang paling bijaksana adalah memeriksa payudara kira secara teratur pada selang waktu yang tertentu pula. Dengan cara ini, kelainan yang terkecil sekalipun dapat ditemukan dan langkah-langkah aktif untuk perngobatan dapat dimulai sedini mungkin (Gilbert, 1996: 41).
Di dunia, kematian akibat kanker diperkirakan sekitar 4,3 juta pertahun 2,3 juta diantaranya ditemukan dinegara berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 3,9 juta pertahun dan terdapat dinegara berkembang sekitar 3 juta (Hidayati, 2001: 195).
Di negara maju insiden kanker payudara 87 per 100.000, angka kematianya kira-kira 27 per 100.000 (Tambunan 1995 : 26). Diantara tumor ganas ginekologi kanker payudara menduduki tempat nomor 2 dari insiden semua tipe kanker di Indonesia. Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks diurutan pertama dengan per evaluasi 18,62% disusul kanker payudara 11,22% dan kanker kulit 8,03% (Hidayati 2001 : 197). Secara statistik di Amerika dan juga di Indonesia 95% dari semua tumor / kanker payudara ditemukan oleh penderita itu sendiri (Ramli, 2000 : 75).
Dewasa ini di Indonesia penyakit kanker dirasakan semakin menonjol, hal ini dapat dilihat dari sebagai laporan rumah sakit yang menyebutkan penyakit kanker cenderung menjadi salah satu penyebab utama kematian pada usia produktif. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukan proporsi penyebab kematian karena kanker semakin meningkat dari 1,3% pada tahun 1976 menjadi 3,4% pada tahun 1980, 4,3% pada tahun 1986 dan 4,8% pada tahun 1992.
Kira-kira sepertiga dari penyakit kanker dapat ditemukan cukup dini untuk dapat disembuhkan. Di bagian bedah FKUI/RSCM selama tahun 1971 – 1978 dari 735 kasus penderita payudara 267 (40%) masih merupakan kasus yang dapat dioperasi. Selama tahun 1988 sampai dengan 1996 dari 566 kasus kanker payudara 185 (32,6%) masih menunjukan kasus-kasus yang operable. Berdasarkan data pra survei berupa pertanyaan lisan yang dilakukan oleh peneliti dengan 20 siswa perempuan di SMUN1 Pringsewu tentang masalah SADARI terdapat 18 orang siswi perempuan yang belum mengetahuinya. Persoalanya adalah bagaimana cara memasyarakatkan SADARI sejak mulai remaja untuk mendetekasi segala kelainan/keganasan pada payudara. Oleh sebab itu penulis berminat untuk mengukur sejauh mana pengetahuan siswi SMU ini yang mempunyai jumlah siswa 610 orang yang terdiri dari siswi perempuan 402 orang dan siswa laki-laki 208 orang dari kelas I sampai kelas III (Data TU SMUN 1 Pringsewu, 2006)
1.2 Identifikasi Masalah
Masalah yang teridentifikasi dari prasurvei tesebut diatas adalah :
1.2.1 Dinegara maju insiden kanker payudara 87 per 100.000, angka kematianya kira-kira 27 per 100.000 (Tambuan 1995 : 26). Diantara tumor ganas ginekologi kanker payudara menduduki tempat nomor dua dari insiden semua tipe kanker di Indonesia. (Ramli, 2000 : 75).
1.2.2 Kira-kira sepertiga dari penyakit kanker payudara dapat ditemukan cukup dini untuk dapat disembuhkan. Dibagian bedah FKUI/RSCM selama tahun 1971-1978 dari 735 kasus penderita kanker payudara 267 (40%) masih merupakan kasus yang dapat dioperasi.
1.2.3 Dari 20 siswa perempuan di SMU N 1 Pringsewu terdapat 18 siswi perempuan yang belim mengetahui tentang masalah SADARI.
1.3 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMU N 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006 ”

1.4 Pertanyaan Penelitian
Bagaimana tingkat pengetahuan remaja putri tentang periksa payudara sendiri (SADARI) di SMU N 1 Pringsewu Tanggamus, 2006.

1.5 Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mempunyai beberapa tujuan yaitu :
1.5.1 Tujuan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tengang SADARI di SMU Nenegri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006.


1.5.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang pengertian SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006.
2. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang tujuan SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus.
3. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tengang kapan waktu melakukan SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006.
4. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang cara melakukan SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006.
5. Diketahuinya tingkat pengetahuan remaja putri tentang hasil pemeriksaan SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006.

1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Bagi Akademi Kebidanan Wira Buana Metro
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa khususnya Program Studi Kebidanan Wira Buana Metro.
1.6.2 Bagi Staf Pengajar SMU Negeri 1 Pringsewu
Hasil penelitan diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengelola pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di SMU Negeri 1 Pringsewu dengan cara memberikan materi SADARI pada pelajaran biologi.
1.6.3 Bagi siswi perempuan di SMU Negeri 1 Pringsewu
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan tambahan pengetahuan bagi siswi SMU Negeri 1 Pringsewu agar dapat melakukan SADARI untuk mendeteksi dini segala kelainan yang ada pada payudara.
1.6.4 Bagi Peneliti
Untuk menambah pengalaman peneliti dan untuk mengetahui pengetahuan remaja putri tentang SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta sebagai penerapan ilmu yang didapat selama pendidikan.

1.7 Ruang Lingkup Penelitian
Di dalam penelitian akan membatasi ruang lingkup yang diteliti, yaitu :
1. Subjek
Subjek yang akan diteliti adalah siswi SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006
2. Obyek
Obyek penelitian tentang tingkat pengetahuan siswi / remaja putri SMU Negeri I Pringsewu Tanggamus Tahun 2006 tentang SADARI.
3. Lokasi
Lokasi penelitian di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus
4. Waktu
Waktu penelitian mulai bulan Januari sampai dengan …………


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja
2.1.1 Pengertian
2.1.1.1 Menurut WHO (1974) remaja adalah :
(1) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukan tanda-tanda sexual sekundernya sampai saat ia mencapai pematangan sexual.
(2) Individu mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa
(3) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial – ekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono SW, 1997: 9).
2.1.1.2 Menurut Jones (1997: 26) remaja adalah diantara masa kanak-kanak dengan
masa dewasa yang secara biologis terletak pada usia 10 – 19 tahun. Remaja adalah masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang berlangsung antara usia 12 – 21 tahun (Haditomo, 1998: 262). Menurut Haditomo masa remaja dibagi menjadi 3, yaitu :
(1) Masa remaja awal antara usia 12 – 15 tahun.
(2) Masa remaja pertengahan antara usia 15 – 18 tahun.
(3) Masa remaja akhir antara usia 18 – 21 tahun.

2.1.2 Karakteristik Remaja
2.1.2.1 Menurut Hurlock (1996 : 206), ciri-ciri remaja yaitu :
(1) Masa remaja sebagai periode yang penting
Kendatipun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadar pentingnya berbeda-beda. Pada periode remaja, akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetaplah penting, ada periode yang penting karena akibat fisik dan ada pula akibat psikologisnya. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.
(2) Masa remaja sebagai periode perlaihan
Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelinya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari satu tahap perkembangan ketahap berikutnya. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang akan dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Status remaja yang tidak jelas ini juga menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai bagi dirinya.
(3) Masa remaja sebagai periode perubahan
Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Ada 5 perubahan yang sama yang hampir bersifat universal, yaitu :
- Meningginya emosi
Perubahan emosi terjadi lebih cepat selama masa awal remaja, maka meningginya emosi lebih menonjol pada masa awal periode akhir-akhir masa remaja.
- Perubahan tubuh
Disini mulai tampak perbedaan antara pria dan wanita akibat perubahan fisik yang terjadi, misal remaja wanita mulai tumbuh payudara, mulai terlihat timbunan lemak dipinggulnya.
- Minat dan peran yang diharapkan
Bagi remaja muda masalah baru yang timbul tampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapi sebelumnya. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah sampai ia sendiri menyelesaikannya menurut kepuasanya.

- Perubahan nilai-nilai
Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting sekarang setelah hampir dewasa dianggap tidak penting lagi. Sekarang mereka mengerti bahwa kulaitas lebih penting daripada kuantitas.
- Sikap ambivalan terhadap setiap perubahan
Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan apa akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk mengatasi tanggung jawab tersebut.
(4) Masa remaja sebagai usia bermasalah
Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun perempuan karena ketidak mampuan mereka untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaianya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka.
(5) Masa remaja sebagai masa rasa ingin tahu
Rasa ingin tahun ini lebih membahayakan, karena seringkali melibatkan beberapa hal yang tidak vital dan mendasar (seperti : apakah tuhan itu ada, bagaimana rasanya melakukan hubungan seks) kemudian seringkali dikaitkan dengan karakteristik remaja lain yaitu kebutuhan akan kemandarian yang mendorong kearah tindakan untuk membuktikan rasa ingin tahunya. Rasa inging tahu dan kebutuhan akan kemandirian tersebut mendorong remaja kearah kematangan. Akan tetapi jika rasa ingin tahu ini tidak dijaga, dalam batasan tertentu yang tidak dapat dikuasainya akan membawanya kepada pengetahuan yang sebenarnya secara emosional belum siap diterima remaja. Oleh sebab itu remaja membutuhkan bimbingan orang yang lebih dewasa dalam memberi batasan tentang sejauh mana ia boleh “mencoba” dan dampak (resiko dan manfaat) dari hasil “percobaan” tersebut.

2.2 SADARI
2.2.1 Pengertian
SADARI adalah pemerikasaan diri untuk payudara / periksa payudara sendiri yang dilakukan secara rutin setiap bulan setelah menstruasi (Gilbert, 1996 : 44). Sedangkan menurut Manuaba (1999 : 72) SADARI adalah upaya untuk menetapkan adanya tumor atau tidak dalam payudara yang dilakukan dengan peradabaan.
2.2.2 Tujuan
Menurut Ramli (2000 : 177) tujuan dilakukan SADARI adalah untuk mendeteksi secara dini jika ada kelainan di payudara.


2.2.3 Waktu SADARI
a. Haid teratur : waktu terbaik adalah hari terakhir masa haid
b. Haid tidak teratur : setiap 6 bulan sekali, saat baru selesai menstruasi
c. Waktu : 10 menit setiap bulan periksa payudara.
2.2.4 Cara pemeriksaan SADARI
Menurut Sarwono (1999, 473) cara SADARI :
1. Perhatikan dan amati :
• Perhatikan dengan teliti payudara anda dimuka cermin tanda berpakaian, dengan kedua lengan lurus kebawah.
• Perhatikan bila ada benjolan atau ada perubahan bentuk pada payudara.
• Amati dengan teliti, sebab anda sendirilah yang mengenal tubuh anda.
• Angkatlah kedua lengan lurus keatas dan ulangi periksa seperti diatas.
2. Dengan kedua siku mengarah kesamping tekanlah telapak tangan anda yang
satu kuat-kuat pada yang lain. Cara ini akan menegangkan otot-otot dada anda dan perubahan-perubahan ex cekungan (dekok) dan benjolan akan lebih kelihatan.
3. Tindakan berikutnya :
• Berbaringlah dengan tangan kanan dibawah kepala
• Letakkanlah bantal kecil dibawah punggung kanan
• Raba seluruh permukaan payudara kanan dengan gerakan pada keterangan
• Perhatikan bila ada benjolan yang mencurigakan
4. Cara meraba
• Rabalah dengan tiga ujung jari tengah yang dirapatkan
• Lakukan gerakan memutar dengan tekanan lembut tetapi mantap dimulai dari pinggir dengan mengkuti arah putaran jarum jam.
5. Lakukan hal yang sama seperti di atas tetapi dengan tangan kiridi bawah
kepala, sedang tangan kanan meraba payudara kiri anda.
6. Lakukan pada kedua payudara
Pencetlah pelan-pelan daerah sekitar putting dan amatilah apakah keluar cairan yang tidak normal (tidak biasa).
7. Bagilah payudara menjadi 4 bagian, ¼ atas dekat axilla. Beri perhatian
khusus karena ditempat tersebut sering ditemukan tumor payudara
2.2.5 Hasil pemeriksaan SADARI
1. Melihat sendiri perubahan payudara
• Terjadi pigmentasi kulit payudara (perubahan warna, bertambah hitam atau menjadi putih).
• Perubahan letak puting susu (retraksi puting susu).
• Perubahan kulit payudaramenjadi keriput.
• Putting susu mengeluarkan cairan darah.
• Pergerkan payudara terbatas, artinya saat menggerakkan tangan payudara tidak ikut bergerak.
• Terdapat luka atau ulkus pada payudara
Pada waktu melihat payudara dapat menggunakan cermin sehingga mudah terlihat perubaha.
2. Meraba payudara sendiri
Meraba payudara untuk mengetahui benjolan adalah sebagai berikut :
a. Menemukan benjolan pada payudara
- Bagaimana pergerakan benjolan dengan sekitarnya
- Saat meraba apakah terasa nyeri
- Di bagian mana terdapat benjolan
b. Memijat putting payudara
- Apakah terdapat pengeluaran cairan
- Apakah dibawah puting payudara terdapat tumor
- Bagaimana pergerakan puting payudara
3. Pemeriksaan ketiak
• Apakah terdapat benjolan pada ketiak
• Bagaimana pergerakan tumor tersebut
• Bagaimana perubahanya
2.3 Pengetahuan
2.3.1 Definisi atau Pengertian
Manusia adalah mahluk ciptaan tuhan yang paling sempurna karena mempunyai cita, rasa dan karsa. Manusia memiliki kehendak untuk mengatahui segala sesuatu yang ada disekitarnya untuk itu manusia selalu mencari jalan untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2002 : 94) bahwa pengetahun merupakan hasil tahu dan nilai terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi pada penglihatan, pendengaran, penerimaan, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan (kognitif) merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior).
Dari pendapat tersebut penulis menyimpulkan bahwa pengetahuan merupakan unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang yang merupakan hasil dari tahu setelah orang itu melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu dan kemudian diproyeksikan oleh orang tersebut menjadi suatu gambaran, presepsi, pengamatan, konsep dan fakta.

2.3.2 Konsep Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2002 : 122) pengetahuan mempunyai enam tingkatan, yaitu :
2.3.2.1 Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu yang diberikan / materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk dalam penggunaan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
2.3.2.2 Memahami (Comprehention)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
2.3.2.3 Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus-rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks situasi yang lain.
2.3.2.4 Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam sesuatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitanya satu sama yang lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan.
2.3.2.5 Sintesis (Shyntetis)
Sintetis menunjukan suatu kemampuan atau melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagain kedalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintetis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi yang ada.
2.3.2.6 Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penelitian ini berdasarkan kriteria yang ditemukan sendiri.




























BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Teori
Kerangka teori penelitian adalah hubungan antara teori-teori yang ingin di amati atau diukur melalui penelitian yang akan di lakukan ( Notoatmodjo, 2002 : 63). Adapun kerangka teori yang akan diteliti yaitu :












Gambar 1 Bagan kerangka teori penelitian
3.2. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2002 : 63). Adapun variabel yang akan diteliti adalah variabel tunggal (Notoatmodjo, 2002 : 70).
Variabel yang akan diteliti yaitu :
Pengetahuan remaja putri tentang SADARI
• Pengertian SADARI
• Tujuan SADARI
• Waktu SADARI
• Cara pemeriksaan SADARI
• Hasil pemerikasaan SADARI





Gambar 2. Bagan Kerangka Konsep Penelitia


BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Penelitian
Desain penelitian ini adalah deskfriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripisi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2002 : 138). Dengan demikian penelitian ini berusaha untuk menggambarkan pengetahuan putri tentang SADARI di SMU Negeri 1 Pringsewu.
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1998 : 15). Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2002 : 79) Berdasarkan pendapat diatas yang menjadi populasi penelitian ini adalah semua siswi di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus pada tahun ajaran 2005/2006 dengan jumlah siswi perempuan 540 orang dari jumlah keseluruhan 810 siswa.
4.2.2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 1998 :
117). Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002 : 79). Menurut Notoatmodjo (2002 : 79) apabila subjek penelitian kurang dari 100, lebik baik sampel diambil semua sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi dan jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10-15% atas 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari : a. Kemampuan peneliti (waktu, tenaga dan dana)
b. Sempit luasnya wilayah peneliti c. Besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti Dalam penelitian ini sample yang diambil adalah sebanyak 100 siswi SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus tahun 2006. Teknik pengambilan sampel secara acak sederhana ini dibedakan menjadi 2 cara, yaitu dengan menggunakan teknik undian (lottery tecnique) dan tabel bilangan atau angka acak (random number) (Arikunto, 1998 : 85). Teknik pengambilan sample ditentukan dengan teknik random sampling yaitu memperoleh sample dengan cara acak sederhana atau random.
4.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di SMU Negeri 1 Pringsewu Tanggamus karena jumlah siswa perempuan 540 orang dari 810 siswa keseluruhan, dan berdasarkan data prasurvey berupa pertanyaan lisan yang dilakuan peneliti kepada 20 orang siswi perempuan ada 18 siswi perempuan yang belum mengatahui tentang SADARI padahal SADARI penting dilakukan mulai dari remaja untuk mendeteksi secara dini jika ada kelainan di payudara dan remaja merupakan sasaran dari kesehatan dari reproduksi.
4.4 Variabel Pengukuran
Variabel yang akan diteliti adalah variabel tunggal yaitu pengetahuan remaja putri tentang SADARI yang terdiri dari sub variabel yaitu : pengetian SADARI, tujuan SADARI, waktu dan hasil pemeriksaan SADARI melakuan SADARI. Untuk dapat mengukur variabel penelitian ini penulis menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2002 : 21) yaitu yang dimaksud dengan instrumen adalah “alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, instrumen ini dapat berupa question (pertanyaan), formulir, observasi, formulir-formulir lain yang berkaitan dengan penataan data”
4.5 Alat Ukur Variabel
Untuk mengukur pengetahuan, alat ukur yang digunakan adalah angket atau kuesioner yang diberikan kepada para responden. Angket adalah penyelidikan suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak) dengan jalan mengedarkan formulir berupa pertanyaan, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subyek untuk mendapakan jawaban (respon, tanggapan) tertulis sepenuhnya (Arikunto, 1998 : 112). Jadi peneliti mengukur dengan menggunakan kuesioner. Instrumen dalam penelitian ini adalah pengetahuan teknik untuk mengukur pengetahuan yang digunakan adalah angket dan alat ukur berupa kuesioner yang diberikan kepada paea responden. Pada setiap item pertanyaan terdapat 2 alternatif jawaban yang ada, bila jawaban benar mendapat skor 1 (nilai tertinggi), dan bila jawaban yang diberikan salah mendapat skor 0 (nilai terendah).

Tabel 2. Distribusi item pertanyaan alat ukur pengetahuan
No Aspek Pengetahuan Nomor Item Pertanyaan
Tahu Memahami Aplikasi
1 Pengertian SADARI 1 9,22
2 Tujuan SADARI 2,23 12,15,29
3 Waktu SADARI 6,7,8,17 21,26
4 Cara Pemerikasaan SADARI 13,25,30 14,19,24 5,10,18
5 Hasil Pemeriksaan SADARI 3,16 4,11,20 27,28


4.6 Analisa Data
Setelah data terkumpul melalui angket atau kuesioner maka dilakukan pengolahan data yang melalui beberapa tahapan sebagai berikut : 4.6.1. Seleksi Data (Editing) Proses pemeriksaan data dilapangan sehingga dapat menghasilkan data yang akurat untuk pengelolaan data selanjutnya kegiatan yang dilakukan adalah memeriksa apakah semua pertanyaan penelitian sudah dujawab dan jawaban yang atau tertulis dapat dibaca secara konsisten.
4.6.2. Pemberian Kode (Coding) Setelah dilakukan editing selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisa data.
4.6.3. Pengelompokan data (Tabulating) Pada tahap ini, jawaban-jawaban responden yang sama dikelompokkan dengan teliti dan teratur lalu dihitung lalu dijumlahkan kemudian dituliskan dalam bentuk tabel-tabel. 4.6.4. Analisis Pengelolaan dan analisis data dilakukan secara manual, dengan menggunakan rumus sebagai berikut : P = Keterangan : P = Persentase a = Jumlah pertanyaan yang dijawab benar B = Jumlah pertanyaan. Sedangkan penekanan kategori penelitian dinilai sebagai berikut :
a. 76 – 100% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori baik.
b. 56 – 75% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori cukup.
c. 40 – 55% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori kurang.
d. Kurang dari 40% jika pertanyaan yang dijawab benar oleh responden termasuk kategori tidak baik (Arikunto 1998 : 246).
















BAB V
HASIL PENELITIAN






5.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian
SMU Negeri 1 Pringsewu salah satu pendidikan yang berada di bawah naungan pendidikan Kabupaten Tanggamus yang berdiri pada tanggal 17 Agustus 1964 ini terletak di Jl. Olahraga No. 1 Pringsewu Barat Kecamatan Pringsewu Kabupaten Tanggamus.
Keliling tanah SMU Negeri 1 Pringsewu yang sudah di pagar permanen seluruhnya adalah 320 m. Secara keseluruhan luas SMU Negeri 1 Pringsewu adalah 4.953 m 2 yang terbagi menjadi :
a. Luas Bangunan : 2.147 m2
b. Lapangan Olahraga : 382 m2
c. Kebun : 2.424 m2
Jumlah : 4.953 m2
Sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh SMU Negeri 1 Pringsewu dalam rangka ikut membantu program pemerintah tentang peningkatan sumber daya manusia (SDM) adalah :
a. Kondisi belajar yang nyaman
b. Administrasi sekolah yang baik
c. Kesejahteraan pegawai
d. Pelayanan pendidikan yang professional
e. Tingginya prestasi kelulusan sekolah
f. Lengkapnya sarana dan prasarana.
Selain memberikan materi pelajaran sesuai dengan kurikulum, SMU Negeri 1 Pringsewu juga mengadakan kegiatan ekstra kulikuler yang dapat diikuti oleh seluruh siswanya.
5.1.1 Jumlah Ketenagaan di SMU Negeri 1 Pringsewu yaitu :
a. Kepala Sekolah : 1 orang
b. Wakil Kepala Sekolah : 4 orang
c. Guru Tetap Yayasan : 55 orang
d. Guru Tidak Tetap Yayasan : 2 orang
e. Tenaga Tata Usaha : 5 orang
f. Pesuruh : 2 orang
g. BP : 4 orang
Jumlah : 73 orang
Jumlah siswa di SMU Negeri 1 Pringsewu pada tahun ajaran 2005/2006 adalah :
a. Kelas X ( 6 kelas ) : 238 siswa
b. Kelas XI ( 6 kelas ) : 199 siswa
c. Kelas III ( 6 kelas ) : 173 siswa
Jumlah : 610 siswa
Jumlah siswa perempuan di SMU Negeri 1 Pringsewu pada tahun ajaran 2005/2006 adalah :
a. Kelas X (6 kelas) : 161 siswi
b. Kelas XI (6 kelas) : 124 siswi
c. Kelas III (6 kelas) : 117 siswi
Jumlah : 402 Siswi
5.1.2 Sarana dan Prasarana
Adapun sarana yang ada di SMU Negeri 1 Pringsewu adalah sebagai berikut:
1) Ruang Belajar
2) Ruang Kepala Sekolah
3) Ruang TU
4) Ruang Dewan Guru
5) Ruang Laboratorium Kimia, fisika, bahasa, biologi
6) Ruang Perpustakaan
7) Ruang Gudang
Sedangkan prasarana yang tersedia di SMU Negeri 1 Pringsewu adalah sebagai berikut:
1) Mushola Lapangan Basket
2) Garasi motor dan sepeda
3) Kantin

5.2 Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian

5.2.1 Langkah-langkah persiapan dalam penelitian
1) Melakukan pra survei di SMU Negeri 1 Pringsewu Kabupaten Tanggamus
2) Menyusun usulan penelitian dan mengajukan usulan dan penelitian melalui seminar.
3) Perbaikan usulan penelitian dan konsultasi mengenai kerangka kuesioner.
5.2.2 Langkah-langkah Pelaksanaan Dalam Penelitian
1) Menyerahkan surat izin penelitian kepada Kepala Sekolah SMU Negeri 1 Pringsewu
2) Pada tanggal 10–11 Mei 2006 dilaksanakan penelitian secara langsung kepada responden
3) Memproses dan menganalisis jawaban kuesioner yang terkumpul
4) Menarik kesimpulan
5) Menulis laporan hasil penelitian.
5.3 Hasil Penelitian
Setelah kuesioner dikumpulkan dan diolah didapat data yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan diagram yang menggambarkan tingkat pengetahuan remaja putri tentang periksa payudara sendiri (SADARI) di SMU Negeri I Pringsewu.
Sesuai dengan pertanyaan penelitian maka hasil penelitian ini dibagi dalam 5 sub variabel, yaitu:
1. Pengertian SADARI
2. Tujuan SADARI
3. Waktu SADARI
4. Cara SADARI
5. Hasil SADARI
Berikut ini akan disajikan hasil penelitian tersebut berdasarkan per sub variabel dalam bentuk tabel.
5.3.1 Pengertian SADARI
Hasil mengenai pengetahuan remaja putri tentang pengertian SADARI diperoleh melalui kuesioner yang memuat 3 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang pengertian SADARI yang diberikan kepada 100 siswa perempuan di SMU Negeri I Pringsewu.
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri
Tentang Pengertian SADARI di SMU Negeri I Pringsewu
Tahun 2006

No Item Pertanyaan Benar Salah
 %  %
1 Pemeriksaan SADARI adalah 83
83% 17
17%
2 Upaya untuk menetapkan adanya tumor atau tidak dalam payudara yang dilakukan dengan perabaan 77
77% 23
23%
3 SADARI adalah upaya untuk menetapkan adanya tumor atau tidak dalam payudara 4
4% 96
96%
Rata-rata 54,67 54,67% 45,33 45,33%
Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata responden yang menjawab benar pada setiap item pertanyaan sub variabel tentang pengertian SADARI adalah sebanyak 54,67% sedangkan rata-rata jawaban salah sebanyak 45,33%.
Setelah dilakukan pengolahan data maka didapat kategori tingkat pengetahuan responden tentang pengertian SADARI pada grafik berikut:

Gambar 5.1 Diagram tingkat pengetahuan responden tentang pengertian SADARI
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang pengertian SADARI yaitu kategori baik sebanyak 4 responden (4%), kategori cukup sebanyak 60 responden (60%), kategori kurang sekali sebanyak 36 responden (36%).
5.3.2 Tujuan SADARI
Hasil mengenai pengetahuan remaja putri tentang tujuan SADARI diperoleh melalui kuesioner yang memuat 5 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang tujuan SADARI yang diberikan kepada 100 siswa perempuan di SMU Negeri I Pringsewu.
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri
Tentang Tujuan SADARI di SMU Negeri I Pringsewu
Tahun 2006

No Item Pertanyaan Benar Salah
 %  %
1 Tujuan utama SADARI 93
93% 7
7%
2 Tujuan lain dari SADARI 0
0% 100
100%
3 Mengapa SADARI penting untuk wanita 97
97% 3
3%
4 SADARI adalah untuk mendeteksi dini jika ada kelainan pada 96
96% 4
4%
5 Pemeriksaan SADARI dilakukan untuk mendeteksi secara dini jika ada kelainan di payudara 93
93% 7
7%
Rata-rata 75,8 75,8% 24,2 24,2%
Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata responden yang menjawab benar pada setiap item pertanyaan sub variabel tentang tujuan SADARI adalah sebanyak 75,8% sedangkan rata-rata jawaban salah sebanyak 24,2%.
Setelah dilakukan pengolahan data maka didapat kategori tingkat pengetahuan responden tentang tujuan SADARI pada grafik berikut:

Gambar 5.2 Diagram tingkat pengetahuan responden tentang tujuan SADARI
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang tujuan SADARI yaitu kategori baik sebanyak 85 responden (85%), kategori cukup sebanyak 11 responden (11%), kategori kurang sebanyak 4 responden (4%).
5.3.3 Waktu SADARI
Hasil mengenai pengetahuan remaja putri tentang waktu SADARI diperoleh melalui kuesioner yang memuat 6 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang waktu SADARI yang diberikan kepada 100 siswa perempuan di SMU Negeri I Pringsewu.
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri
Tentang Waktu SADARI di SMU Negeri I Pringsewu
Tahun 2006

No Item Pertanyaan Benar Salah
 %  %
1 Kapan dilakukan SADARI untuk wanita dengan haid yang teratur 32
32% 68
68%
2 Kapan dilakukan SADARI untuk wanita dengan haid yang tidak teratur 0
0% 100
100%
3 Waktu yang diperlukan untuk mengerejakan SADARI setiap bulannya 63
63% 37
37%
4 Berapa kali dalam 1 bulan SADARI dilakukan 63
63% 37
37%
5 Waktu melakukan SADARI dibedakan menurut teratur tidaknya 95
95% 5
5%
6 Apakah hari terakhir masa haid adalah waktu terbaik melakukan SADARI untuk siklus haid 82
82% 18
18%
Rata-rata 55,83 55,83% 44,17 44,17%
Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata responden yang menjawab benar pada setiap item pertanyaan sub variabel tentang waktu SADARI adalah sebanyak 55,83% sedangkan rata-rata jawaban salah sebanyak 44,17%.
Setelah dilakukan pengolahan data maka didapat kategori tingkat pengetahuan responden tentang waktu SADARI pada grafik berikut:

Gambar 5.3 Diagram tingkat pengetahuan responden tentang waktu SADARI
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang waktu SADARI yaitu kategori baik sebanyak 11 responden (11%), kategori cukup sebanyak 36 responden (36%), kategori kurang sebanyak 31 responden (31%) dan kategori kurang sekali sebanyak 22 responden (22%).
5.3.4 Cara SADARI
Hasil mengenai pengetahuan remaja putri tentang cara SADARI diperoleh melalui kuesioner yang memuat 9 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang cara SADARI yang diberikan kepada 100 siswa perempuan di SMU Negeri I Pringsewu.




Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri
Tentang Cara SADARI di SMU Negeri I Pringsewu
Tahun 2006

No Item Pertanyaan Benar Salah
 %  %
1 Bagaimana sebaiknya posisi dalam melakukan SADARI 58
58% 42
42%
2 Gerakan SADARI dilakukan dengan menggunakan tangan 63
63% 37
37%
3 Urutan tindakan SADARI 67
67% 33
33%
4 Pada tindakan SADARI untuk meraba payudara menggunakan 55
55% 45
45%
5 Posisi tindakan SADARI yang akan menegangkan otot-otot dalam dari perubahan seperti cekungngan (dekok) dan benjolan akan lebih kelihatan 76
76% 24
24%
6 Bagian dari payudara yang sering ditemukan tumor payudara 25
25% 75
75%
7 Perhatikan dengan teliti payudara Anda di muka cermin tanpa berpakaian dengan kedua tangan 46
46% 54
54%
8 Saat melakukan perabaan pada tindakan SADARI dengan tekanan lembut tetapi mantap dimulai dari pinggir dengan arah 28
28% 72
2%)
9 Amati dengan teliti segala perubahan yang ada pada payudara karena 97
97% 3
3%
Rata-rata 57,22 57,22% 42,78 42,78%
Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata responden yang menjawab benar pada setiap item pertanyaan sub variabel tentang cara SADARI adalah sebanyak 57,22% sedangkan rata-rata jawaban salah sebanyak 42,78%.
Setelah dilakukan pengolahan data maka didapat kategori tingkat pengetahuan responden tentang cara SADARI pada grafik berikut:

Gambar 5.4 Diagram tingkat pengetahuan responden tentang cara SADARI
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang cara SADARI yaitu kategori baik sebanyak 19 responden (19%), kategori cukup sebanyak 25 responden (25%), kategori kurang sebanyak 40 responden (40%) dan kategori kurang sekali sebanyak 16 responden (16%).
5.3.5 Hasil SADARI
Hasil mengenai pengetahuan remaja putri tentang hasil SADARI diperoleh melalui kuesioner yang memuat 7 pertanyaan mengenai pengetahuan tentang hasil SADARI yang diberikan kepada 100 siswa perempuan di SMU Negeri I Pringsewu.










Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Remaja Putri
Tentang Hasil SADARI di SMU Negeri I Pringsewu
Tahun 2006

No Item Pertanyaan Benar Salah
 %  %
1 Pada hasil pemeriksaan SADARI dengan melihat perubahan apa yang terjadi pada kulit payudara yang mengalami kelainan 13
13% 87
87%
2 Apakah yang disebut dengan pergerakan payudara terbatas 39
39% 61
61%
3 Yang dapat diamati pada saat melakukan SADARI 90
90% 10
10%
4 Bila ada penyakit pada payudara maka putting susu akan mengeluarkan 24
24% 76
76%
5 Untuk mendapat hasil pemeriksaan SADARI melalui 36
36% 64
64%
6 Saat meraba payudara sendiri. Jika menemukan benjolan pada payudara hal apa yang perlu diperhatikan 32
32% 68
68%
7 Untuk menemukan hasil pemeriksaan SADARI maka perhatikan hal-hal pada ketiak 33
33% 67
67%
Rata-rata 38,14 38,14% 61,86 61,86%
Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata responden yang menjawab benar pada setiap item pertanyaan sub variabel tentang hasil SADARI adalah sebanyak 38,14% sedangkan rata-rata jawaban salah sebanyak 61,86%.
Setelah dilakukan pengolahan data maka didapat kategori tingkat pengetahuan responden tentang hasil SADARI pada grafik berikut:

Gambar 5.5 Diagram tingkat pengetahuan responden tentang hasil SADARI
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan responden tentang hasil SADARI yaitu kategori baik sebanyak 1 responden (1%), kategori cukup sebanyak 23 responden (23%), kategori kurang sebanyak 30 responden (30%) dan kategori kurang sekali sebanyak 46 responden (46%).















BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN


7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai tingkat pengetahuan remaja putri tentang Periksa Payudara Sendiri (SADARI) di SMU Negeri 1 Pringsewu maka dapat penulis simpulkan bahwa :
7.1.1 Pengetahuan remaja putri tentang pengertian SADARI sebagian besar termasuk dalam kategori cukup yaitu 60 orang (60%).
7.1.2 Pengetahuan remaja putri tentang tujuan SADARI sebagian besar termasuk dalam kategori baik yaitu 85 orang (85%).
7.1.3 Pengetahuan remaja putri tentang waktu SADARI sebagian besar termasuk dalam kategori cukup yaitu 36 orang (36%).
7.1.4 Pengetahuan remaja putri tentang cara SADARI sebagian besar termasuk dalam kategori kurang yaitu 40 orang (40%).
7.1.5 Pengetahuan remaja putri tentang hasil SADARI sebagian besar termasuk dalam kategori tidak baik yaitu 46 orang (46%).
Dari hasil penelitian di atas maka dapat dilihat bahwa secara keseluruhan tingkat pengetahuan remaja putri tentang SADARI adalah kurang. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kurangnya informasi remaja putri tentang teknik SADARI pada khususnya dan informasi tentang kesehatan pada umumnya. Oleh karena itu sangatlah perlu untuk diberikan arah dan bimbingan kepada mereka dalam bidang kesehatan terutama kesehatan reproduksi sehingga diharapkan dapat membantu dalam meninggikan angka kesehatan individu itu sendiri.
Dengan demikian maka pengetahuan remaja putri tentang SADARI perlu ditingkatkan lagi karena SADARI berguna untuk mendeteksi tumor dan kanker payudara sehingga diharapkan dapat berperan dalam menurunkan angka kematian akibat kanker payudara yang sekarang ini masih menduduki urutan ke-2 dari semua angka kematian akibat kanker Indonesia.
7.2 Saran
7.2.1 Bagi Siswa Perempuan Di SMU Negeri 1 Pringsewu
Perlunya para remaja putri untuk berusaha menambah wawasan tentang SADARI, bisa dengan membaca buku-buku tentang kesehatan, artikel-artikel kesehatan di majalah / Koran atau dengan mengunjungi klinik kesehatan remaja sehingga akan menambah pengetahuan tentang SADARI dalam upaya mendeteksi dini kanker payudara serta pengetahuan tentang kesehatan lainnya.
7.2.2 Bagi Staf Pengajar SMU Negeri 1 Pringsewu
Diharapkan untuk selalu memberikan bimbingan dan mendorong minat baca para siswa/siswinya serta menyediakan sarananya, misalnya dengan menambah persediaan buku-buku tentang kesehatan dan kesehatan remaja di perpustakaan sekolah sehingga dapat menambah pengetahuan tentang teknik SADARI atau tentang topik-topik kesehatan yang lain.
7.2.3 Bagi Institusi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa yang lain serta untuk menambah wawasan mahasiswa jurusan kebidanan khususnya mengenai pengetahuan remaja putri tentang SADARI.
7.2.4 Bagi Peneliti
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian di masa yang akan datang yaitu sebagai bahan masukan mengenai pengetahuan remaja putri tentang SADARI sehingga peneliti lain lebih dapat mengembangkan pengetahuan tentang kesehatan lainnya





















DAFTAR PUSTAKA




Arikunto S., 2002 , Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Edisi Revisi V, Jakarta.

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial. Airlangga University Press. Surabaya.

Dianawati A., 2003, Pendidikan Seks Untuk Remaja, Kawan Pustaka, Jakarta.

Elizabeth BH., 1996, Psikologi Perkembangan, Edisi Kelima, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Gilbert P., 1996, Payudara Apa Yang Perlu Diketahui Wanita, Arcan, Jakarta.

Haditomo, 1998, Psikologi Perkembangan, UGM, Yogyakarta.

Hurlock EB., 1996, Psikologi Perkembangan, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Jones, 1997, Setiap Wanita, Pustaka Delapratasa, Jakarta.

Manuaba IBG., 2001, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, EGC, Jakarta.

Notoatmodjo S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

., 2002, Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Ramli M., 2002, Deteksi Dini Kanker, FKUI, Jakarta.

Sarlito WS., 1997, Psikologi Remaja, Arcan, Jakarta.

Sarwono P., 1996. Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro Hardjo, Jakarta

Soetjiningsih, 1997, Asi Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan, EGC, Jakarta.




No Nama Responden Umur (tahun) Kelas No Nama
Responden Umur (tahun) Kelas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar